Tanpa Batas

Angin

Tak mungkin menyalahkan waktu dan keadaan. Semuanya tiba beruntun menggelegak di  hatiku, seperti beliung yang menggila. Hingga kini badai itu masih sama, berpusar di relung hatiku yang terombang-ambing oleh sebuah kepastian yang hingga kini masih kupertanyakan padamu.

Entah seperti apa aku akan memulai semuanya. Bagiku ini masih baru, ngilu senantiasa menguntit kala aku hendak membuka suara. Namun apa daya, aku harus mengatakannya. Ya, mengatakannya padamu. Aku ingin kau tahu, bahwa sebenarnya aku telah tahu.

Mungkin selama ini kau mengira aku tak tahu, kau pikir kau telah menyimpan rapat apa yang seharusnya, menurutmu, aku tak perlu tahu. Bahkan orang lain, bapakku yang suamimu, sekaligus. Apa maksudmu, tak pernah habis terpikirkan oleh kapasitas otakku yang dangkal. Andai saja engkau tahu, bau yang berasal dari bangkai apapun, di mana pun, dan dengan apapun kau menyimpannya, tak akan pernah luput dari penciuman. Karena ia menguar, menyebarkan bau bernama :”kebusukan”.

Ya, kebusukanlah yang selama ini kau simpan bersama deru angin yang berpusar di atap rumah kita, menggoncangkan seisi keluarga, hingga seakan kita terbang karena tak bisa menahan goncangan yang melanda kita. Seakan kita yang berada dalam pusaran itu tak akan pernah bisa lepas.

Mata, mungkin hanyalah sebuah pancaindera yang melihat segala sesuatu dari luarnya saja, secara jasmani, secara badani. Tapi hati, naluri yang tak pernah berdusta. Dan harusnya kau tahu, orang-orang seperti kami, aku, dan terkhusus bapakku yang meminangmu dengan selingkar emas yang diselipkan di jari manismu (kau harusnya tahu, emas itulah wujud hasil keringat yang ia peras beberapa tahun sebelumnya – hanya untukmu), masih memiliki segumpal daging di dada kiri kami, yang disebut hati itu. Ya, segumpal daging yang konon dari sanalah terciptanya naluri, yang mampu merasa lebih dari apa yang bisa dirasakan oleh lidah, melahirkan firasat, bahkan mampu melihat lebih dari apa yang dilihat oleh mata. Oleh karenanyalah, mereka, orang-orang yang juga masih memiliki gumpalan daging di sudut kiri dada itu menamainya : mata hati.

Kau boleh saja mengelak dan berdalih. Alih-alih tak pernah punya keburukan dengan suara dan tuturmu yang memesona, bahkan kau bisa saja mangkir meski apa yang kulihat lebih jelas daripada sinetron yang didramatisir. Namun, hatiku, naluriku, semua telah mengarahkan aku pada suatu simpulan yang tak akan bisa kau pungkiri. Mungkin kau tak peduli, namun bapakku juga sama denganku. Matanya tak buta, terlebih mata hatinya. Apakah ini semua masih akan kau ingkari? Mengapa kau tak jujur saja? Meski memang secara otomatis kau akan melukai perasaanku–terlebih dia yang telah menanamkan sel jantannya di rahimmu hingga terwujudlah aku– pasti hatinya akan lebur bersama badai yang ribut menderu di atap rumah kita.

Sepuluh tahun yang lalu, ketika umurku masih 7 tahun,  adalah ulang tahun terindah yang pernah kulalui bersama kalian. Andaikan dia yang harusnya kusebut adik- tak pernah lahir, tepat di saat usiaku menginjak 8 tahun, mungkin kasih sayang itu tak akan pernah terampas dari kalian. Mungkin akulah satu-satunya orang yang kalian manjakan, kalian hidupi dengan kasih sayang dan kebahagiaan yang dahulu pernah kita recap bersama-sama selama hampir sewindu lamanya.

Namun aku tak pernah menyesal, karena bagiku semua itu tak ada bedanya, selama aku masih menjadi anak manis yang membanggakanmu, juara kelas yang tak tertandingi (karena setimba air dan cemeti akan menyambutku saat prestasiku turun­). Aku masih mengharapkan memori itu bisa kuingat dengan jelas, namun yang terpetakan dalam ingatanku hanyalah saat-saat di mana kejadian itu berlangsung saat aku berusia 17 tahun. Semua benar-benar berbeda saat itu. Memang benar, waktu telah mengubah segalanya. Membawa segala kehampaan, bahkan seiring berjalannya waktu pula, angin sepoi-sepoi yang bertengger di atap rumah kita berganti menjadi beliung yang menyeramkan, bersiap menunggu waktu sampai semua lebur, hancur diterbangkannya.

Entahlah, yang kutahu kau pun telah mengubah segalanya. Benar-benar mustahil bahwa seperti ini yang ternyata terjadi. Tak pernah sama persis dengan yang kubayangkan. Yang kutahu hanyalah bahwa bapakku punya sifat yang keras terhadap siapa pun yang menyakiti hatinya. Namun entah kenapa dia tak marah padamu meski telah kau undang angin ribut itu ke rumah kita, hingga beliung berpusar di atas rumah kita. Aku hanya melihat tatapan kosong di matanya namun kurasa kemarahannya telah lenyap diterbangkan angin. Hatinya menjadi dingin, bahkan seperti membatu.

Tak pernah kurasakan tatapannya sedalam itu. Bukan kosong, lantaran aku yakin jauh di dalam alam bawah sadarnya begitu banyak hal yang terpeta dalam ingatannya. Ia ingin bicara kurasa. Namun entah beban seberat apa yang membuatnya jadi bisu dan linglung. Aku benar-benar menyalahkanmu atas semua ini. Mengapa kau begitu tolol mempermainkan laki-laki baik hati yang kupanggil bapakku? Kurang apa dia? Selain sifatnya yang sabar dan tak pernah berhenti bekerja keras untuk kita, ia sudah tak punya apa-apa lagi. Sudah habis semua yang dimilikinya. Untuk siapa? Kita. Dan apa balasanmu baginya?

Kau undang angin ke rumah kita yang sudah dingin. Kau pelihara angin itu hingga dia besar dan menjadi congkak. Sedikit saja sentuhan menjamahnya, ia langsung murka. Dan korbannya? Siapa lagi? Ya aku, adikku, terlebih bapakku. Angin ribut itu terus berpusar di atas kepala kita, di atap rumah kita. Dia berputar-putar seakan ingin mencerabut rumah ini dari akarnya.

Kini usiaku sudah 19 tahun. Bapakku sudah mati meninggalkan aku dan kita semua. Angin ribut yang menggoncangkan rumah kita dulu membuatnya menjadi pendiam, bahkan dengan diam pula dia gantungkan lehernya pada seutas tali yang diikatnya di atap kamar kosong yang kau tinggalkan. Kulihat matanya yang memandang begitu tajam, namun sayu itu tak berkedip saat menyangga tubuhnya yang semakin kurus itu.

Bukan salahmu kalau kau tahu. Aku tak pernah menyalahkanmu. Hanya saja, aku sering kali menyesali diriku sendiri. Kenapa aku harus terlahir dari rahim wanita sepertimu? Padahal aku sebenarnya diberi kesempatan untuk memilih dari rahim wanita mana aku minta dilahirkan. Mungkin wanita yang baik seperti dalam dongeng-dongeng. Namun aku justru memilihmu lantaran kau memang tak seperti mereka. Kau memang hebat karena kaulah satu-satunya wanita yang bertahan saat badai besar yang kau timbulkan itu menghantam, memorak-porandakan seisi rumah kita.

Aku iri padamu, mengapa kau bisa sekuat itu? Aku pun jadi penasaran. Apa yang mampu mengalahkan keangkuhanmu? Kau begitu keras, bahkan untuk dicairkan dengan api sekalipun. Tapi kita lihat saja, apakah tali mampu mengalahkanmu. Kuambil tali raffia yang masih bisa kuraih dengan separuh sisa kewarasan yang kumiliki. Kukalungkan di lehermu. Kau terperanjat namun kali ini tak bisa berkelit lagi. Aku senang. Aku puas melihat keliaranmu bisa kutaklukkan. Maka, aku pun bersorak gembira mengelilingi jasadmu yang sudah ditinggal raganya.

Namun entah kenapa, aku merasa ini seharusnya tak boleh kulakukan. Bukan, bukan, seharusnya tak begini. Ada yang masih ingin kutanyakan padamu. Ya, sebuah tanya yang sudah mengendap lama di otakku. Ingin kutanyakan jauh-jauh hari dulu namun aku sungkan pada bapakku. Dan sebenarnya, hanya kaulah yang bisa menjawab sebuah tanyaku ini. Hanya kau seorang. Namun kini kau tak bernyawa lagi. Karena aku. Bagaimana ini? Aku betul-betul penasaran. Aku membutuhkan jawabannya. Sekarang juga. Agar aku bisa mati dengan tenang.

Apa ? Mati? Ya. Mungkin itu caranya. Separuh setan di hatiku bangun memunculkan ide yang brilian. Aku harus menyusulmu kalau ingin tahu jawaban yang kuinginkan. Akan kukejar kau sampai aku tahu jawabnya. Maka dengan separuh bagian kewarasan lain yang masih tersisa, kuambil sebatang pisau di atas meja. Kuhunjamkan tepat di dada kiriku yang kuyakin di sanalah seonggok daging yang dulu melahirkan naluri untukku bersarang.

Ya, tepat di ulu hatiku tertancap pisau tajam itu. Darah muncrat mewarnai pakaianku. Aku tak peduli dan tersenyum bangga karena sebentar lagi aku akan bertemu denganmu. Nanti di sana, di mana pun kita bertemu, aku akan menanyakan padamu : siapa laki-laki itu? Laki-laki yang spermanya membuahi sel telurmu hingga tercipta diriku? Siapa dia, lelaki yang harusnya kusebut bapak kandungku? Selama ini semua belum jelas.