Tanpa Batas

Dua Penyair Muda Ngobrol Puisi Indonesia Terkini

Ruang virtual Sruntul pada Selasa sore, 27 Juli 2021 menghadirkan diskusi sastra Indonesia terkini. Dua penyair muda, Yusril Ihza dan Ng. Lilis Suryani pun didaulat membincang tema Puisi Hari Ini : Gaya Lain atau Kegagalan Berbahasa. Lebih lanjut, diskusi ini banyak membicarakan kondisi perpuisian Indonesia era kekinian. Moderator diskusi sekaligus salah satu founder Sruntul, Rizki Amir pada kesempatan lain menyampaikan bahwa tema ini dipilih karena ada kegelisahan atas puisi-puisi yang beredar hari ini. “Pemilihan tema diskusi didasari atas keresahan yang beredar hari-hari ini, baik yang ada di media cetak maupun digital. Selain itu, kami juga merespons dan mencari kemungkinan lain atas festival puisi jelek yang digawangi oleh Afrizal Malna.

Yusril ihza membuka dengan memaparkan kondisi umum sastra Indonesia terkini. Beberapa kondisi yang diindra oleh penyair yang juga penulis naskah lakon ini antara lain maraknya manuskrip puisi yang dengan satu tema utuh sebagai legitimasi seorang penyair yang memiliki identitas, latar belakang, serta identitas tertentu. Selain itu, matinya kepakaran, matinya kritik sastra, juga mulai bertumbangan media-media berhonor tak pelak menjadi pukulan bagi penyair secara umum.

Secara khusus Yusril membicarakan mengenai wabah puisi jelek yang digagas oleh Afrizal Malna. Dari pemahaman soal seni dan sastra, terkhusus puisi, mewabahnya satu virus perpuisian yang dinamai Festival Puisi Jelek dan dipelopori oleh penyair Afrizal Malna merupakan suatu pergerakan yang cukup berani menabrak konvensi bentuk dan isi pada perpuisian di sejarah kepenyairan sastra Indonesia hari ini. Fenomenalnya, festival ini diikuti oleh lebih dari 50 penyair, dalam akun Instagram @artdown_forum – akun yang mewadahi para penyair puisi jelek – terdapat 114 postingan terkait puisi jelek yang dikumpulkan dari para penyair. Festival Puisi Jelek ini berupaya melampaui teks, sekaligus menelanjangi konvensi puisi yang selama ini dikonstruksi sebagai bentuk sastra adiluhung dibanding prosa, esai, dan drama.

Selanjutnya, Yusril memaparkan beberapa postingan Afrizal mengenai Festival Puisi Jelek. Secara khusus pada postingan #8, Afrizal menjelaskan bahwa Festival Puisi Jelek adalah sebuah ‘main-main’ nggak serius di arena digital. Merupakan aktivasi memantulkan kembali batas praktik-praktik menulis ‘sajak’ dan menulis ‘puisi’. Festival ini mengajak melihat kembali puisi sebagai narasi ‘setelah bahasa’; setelah sajak sebagai praktik ekspresi bahasa. Karena puisi bukan sajak (sebagai representasi keindahan bahasa), membuat puisi berpeluang keluar dari jebakan bahasa, menggerakan ide-ide tanpa takut jelek. Kata ‘jelek’ digunakan sebagai unboxing atas pembekuan nilai-nilai; bergerak ke arah yang natur maupun organik, tanpa merasa malu atau takut puisinya disebut jelek. Jelek sebagai detox atas orientasi tentang yang bagus, yang traumatik.

Artinya, Festival Puisi Jelek ini mengajak masyarakat ramai untuk merayakan sebuah puisi yang tidak lagi berpusat pada apa yang disebut estetika bahasa, rima, bunyi, dan yang berkiatan dengan aturan resmi kebahasaan. Afrizal juga memiliki pandangan dan definisi sendiri tentang perbedaan puisi dengan sajak. Terlepas dari perbedaan itu, secara emosional puisi jelek ini menekankan pada suatu kebebasan berpuisi tanpa harus memikirkan kaidah dan esensi dasar puisi tentang mana yang bagus dan mana yang jelek.

Pembicara selanjutnya, Ng. Lilis Suryani menyampaikan bahwa puisi masih berkutat di antara kata dan kebenaran. Dalam paper yang dipaparkan, penyair asal Cianjur ini memaparkan kondisi bahwa kita mengharapkan puisi mengangkut kebenaran sekaligus menawan. Namun, kita kerap lupa bahwa puisi tidak hanya memuat kebenaran tapi juga pandangan yang janggal.

Lilis pun juga turut nimbrung dalam diskusi mengenai teks Afrizal. Lilis mengungkapkan bahwa teks puisi Afrizal dapat menangkap sudut pandang lain serta terdapat banyak keanehan. Lebih lanjut, Lilis menyampaikan bahwa kecenderungan usia berpengaruh juga pada kematangan penyair berdiri di antara permainan kata dan kebenaran. Namun, ia juga menyebut bahwa banyak penyair yang mempunyai keterbatasan dalam olah bahasa. Penyair-penyair ini disebut Lilis sebagai “Mau mendalami bahasanya, tapi belum detail dalam muatannya.”

Diskusi kreatif semacam ini sudah menjadi agenda rutin Sruntul. Rizki Amir menyebut bahwa ke depan, diskusi kreatif Sruntul bisa meluas ke bidang seni yang lain. “Sementara ini diskusi masih berkitar tentang sastra dan bahasa,” terang penyair yang akrab disapa Kimpul ini. (tim)