Jurnalis Perempuan, Sekadar ‘Pemanis’ Bikin Miris

Bisakah perempuan menjadi pucuk tertinggi dalam susunan redaksi sebuah media?  Bisakah perempuan tampil ‘apa adanya’ saat dirinya menjadi presenter, host atau news anchor di televisi? Mampukah perempuan menuliskan deep journalism secanggih laki-laki dengan kekuatan nalar dan pengetahuannya, sementara stigmasi perempuan dinilai sebagai manusia yang ‘apa-apa pakai hati dan perasaan’?

Pertanyaan-pertanyaan di atas sebetulnya bukanlah pertanyaan baru. Namun, nyatanya permasalahan ketidaksetaraan berdasarkan gender di dunia kerja, khususnya jurnalis masih ada. Berdasarkan survei yang diterbitkan oleh Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) pada tahun 2012 bertajuk Jejak Jurnalis Perempuan, dari 10 jurnalis yang ada hanya 2 hingga 3 orang diisi oleh perempuan.

Dari komposisi keterisian perempuan pada bidang media massa yang sangat rendah, maka sejalan pula dengan rendahnya kesempatan dan keterisian perempuan dalam susunan redaksi. Mengisi tetapi tidak mempengaruhi, mungkin jadi kalimat yang tepat menggambarkan situasi ini. 90 hingga 94 persen dari 100 persen keterisian redaksional yang diwakili kaum adam juga dipastikan akan berpengaruh pada kebijakan-kebijakan bernuansa laki-laki yang kerap kali tidak ramah perempuan.

Dari berbagai survei yang dilakukan, menyoal komposisi dan peranan jurnalis perempuan, Indonesia menjadi salah satu negara terburuk di dunia. Di Indonesia perempuan mengalami diskriminasi secara verbal, seperti cat calling dan body shaming. Belum lagi menyoal anggapan dan stigmasi lemah secara fisik dan tak kuat secara logika dan bernalar. Media televisi—misalnya, yang notabene menampilkan visual, menuntut perempuan menjadi makhluk yang good looking, tinggi semampai, berambut panjang, tidak gendut, berkulit putih dan glowing (mirip standar kecantikan Eropa) saat menjadi seorang pembawa acara.

Manajemen redaksi pada umumnya mencitrakan redaksional sebagai yang kuat, kerja keras, intens, berat, jam kerja yang tidak teratur, deep, dan hal-hal lain yang diidentikan dengan laki-laki. Pada akhirnya perempuan diposisikan nomor dua karena dianggap tak punya kapabilitas, waktu, dan ketahanan fisik yang cukup jika harus begadang deadline.

Standar-standar kecantikan yang disematkan pada perempuan, seolah menjadikan isi otak perempuan menjadi nomor dua setelah paras cantik yang dimilikinya. Pada akhirnya, perempuan hanya menjadi ‘komoditas’ tontonan. Perempuan beserta tubuh dan parasnya digunakan sebagai selling point bagi program tertentu. Semakin cantik dan sexy seorang presenter atau host maka semakin banyak penonton. Al hasil, seksualitas perempuan dikomodifikasi.

Piliang dalam Ibrahim (1998) menjelaskan posisi perempuan dan tubuhnya melalui pisau analisa ekonomi politik dalam dunia komoditi. Ia memaparkan bahwa ada tiga sisi yang dapat dilihat dari tubuh perempuan ketika bicara kaitan antara (tubuh) perempuan dan ekonomi politik, yaitu ekonomi politik tubuh (political –economy of body), ekonomi politik tanda (political-economy of signs) dan ekonomi politik hasrat (political-economy of desire). Piliang melihat iklan di media, tubuh dan perempuan dengan pisau analisa ekonomi politik, ia mengkaitkannya dalam konteks kapitalisme.

Persoalan tak sampai disitu, Survei Universitas Indiana menyebutkan adanya disparitas gaji dan tunjangan antara laki-laki dan perempuan. Perempuan hanya mendapatkan 83 persen gaji yang lebih kecil dari apa yang didapatkan oleh laki-laki. Jikapun perempuan menduduki posisi tertinggi dalam susunan redaksi, dirinya tetap harus merasakan banyak tekanan untuk memenuhi sejumlah ekspektasi berbasis gender.

Akhirnya, para jurnalis perempuan hanya ditempel sebagai pemanis. Bahkan, dijadikan sebagai komoditas kapitalis yang mampu meningkat selling velue sebuah program yang kemudian dieksploitasi dari mulai wajahnya, hidung, pinggul, rambut, kaki, dan lain-lain. []    

 

Sumber Rujukan :

Ibrahim, Idi Subandi dan Hanif Suranto (eds. ), ‖Wanita dan Media: Konstruksi Ideologi Gender dalam Ruang Publik OrdeBaru‖, 305-309, Bandung: Rosdakarya, Bandung, 1998.

Luviana, 2014, Stereotipe Perempuandalam Media, Jurnal pusat studi media dan komunikasi. Jurnal On-line: http://www.remotivi.or.id/amatan/28/Stereotipe-Perempuan-dalamMedia)diakses tanggal 1 September 2016).