Tanpa Batas

Kalabendhu

SEMAR DAN TOGOG HADIR SEBAGAI AKTOR DI ATAS PANGGUNG. NAMUN KALI INI BUKANLAH TOGOG YANG MENGELUH. MELAINKAN SEMAR MERASA SEDIH KARENA KESAKTIANNYA MENGHILANG. ADEGAN INI TERJADI GARA-GARA SEMAR TIDAK BISA KENTUT LAGI. PUN TOGOG TERKEKEH-KEKEH.

“Pergi, pergi, pergi!!!! Kau tidak dibutuhkan lagi di sini, dasar Si Tua Jemblung.”

Suara itu terngiang terus menerus di telinga dan ingatan Semar

SEMAR

Mbegegeg ugeg ugeg, sak dulito sak dulito, mel mel … Owalah ngger, nggeerr … Dunia seperti penjara, negara juga suka menjarah, para pemimpin suka berganti-ganti wajah dan pakaian, pemikiran sudah semakin rusak, agama dan politik bersaudara saling mengakui kebenaran.

Togog dengan tawanya yang menggema datang.

TOGOG

Akhirnya, di segala kericuhan ini kita dipertemukan kembali. Ternyata, perjalanan hidup kita belum berakhir.

Togog sedikit tercengang melihat Semar duduk termangu dengan wajah kuyuh.

SEMAR

Apakah seterusnya akan tetap berjalan tanpa akhir yang jelas Kakang?

TOGOG

Bukankah akhir dari perjalanan akan kembali ke titik awal kita melangkah?

SEMAR

Apa maksudnya, Kakang?

TOGOG

Ya tentu saja masih ada alam lain setelah ini semua berakhir.

Semar duduk, memperlihatkan wajah murungnya

TOGOG

Setiap kita bertemu, seharusnya aku yang bersedih dan mengeluh, ini sekarang kok malah wajahmu yang murung. Apa sedang ada masalah besar yang menimpamu?

 

SEMAR

(Terdiam sejenak) Beberapa waktu belakangan ini, kesaktian kentutku menghilang. Sekalinya ngentut, sudah tidak ampuh lagi. Apa mungkin hidung dan telinga mereka tidak memiliki lubang lagi?

TOGOG

(tertawa keras) Owalah, jadi cuma permasalahan kentut toh. Semar, Semar … Yaa memang sejatinya kita ini harus dibenturkan dengan permasalahan terlebih dahulu agar kita tahu bahwa dunia ini adalah sumber masalah yang harus dijalani bukan diakhiri.

SEMAR

Sekarang ini zamannya para pelupa, zaman semakin edan dan tidak terkendali.

TOGOG

Bukankah manusia di bumi ini adalah tempatnya salah dan lupa?

SEMAR

Ya benar, tapi selain lupa dirinya sendiri, banyak yang tidak mau mengakui kesalahannya sendiri.

TOGOG

Semar, harusnya kau itu sudah memahami mengapa semua ini terjadi, toh kita sendiri juga pernah melakukan kesalahan.

Semar terdiam sejenak.

SEMAR

Mbegegeg ugeg ugeg, sak dulito sak dulito, mel mel … Kalau memang benar setelah ini nanti masih ada alam lain. Apakah di sana juga masih ada politik, perpecahan, dan pertumpahan darah?

TOGOG

Di tempat tersunyi manapun, manusia tidak akan menemukan kedamaian kalau hatinya belum damai dengan persoalan ramai.

SEMAR

Lalu alam seperti apa yang Kakang maksud itu?

TOGOG

Alam dimana kita nanti akan menjadi rahasia yang tidak pernah terpecahkan, karena rahasia akan tetap menjadi rahasia walaupun ada yang mampu memecahkannya.

SEMAR

Apa yang Kakang maksud itu adalah surga dan neraka?

TOGOG

Surga dan neraka itu hidup di hati dan pikiran kita. Pernahkah kita mendengar kalau surga itu panas dan neraka itu dingin?

SEMAR

Loh, kok bisa? Sudah dikatakan di dalam al kitab agama manapun kalau surga itu dingin dan neraka itu panas.

TOGOG

Kalau semua orang mempelajari al-kitab hanya sekadar membaca kalimatnya saja, ya jelas semua akan terlihat secara kasat mata saja.

SEMAR

Lalu, seharusnya bagaimana agar kita bisa mengetahui kebenarannya?

TOGOG

Bukankah di surga ada buah-buahan segar, pepohonan rindang, sungai yang aliran airnya jernih nan suci, dan bidadari-bidadari yang siap melayani keinginan kita? Yaa, yang pasti semua yang kita minta akan segera dipenuhi dalam sekejap.

SEMAR

Ya, benar sekali. Semua manusia merindukan tempat yang paling tenang, nyaman dan mendapatkan apa yang diinginkan. Oleh karena itu, aku selalu menganjurkan anak-anakku berperilaku mulia agar kelak mendapatkan kebaikan. Sapa sing nandhur, bakal ngunduh apa kang ditandur.

TOGOG

Lantas kenapa orang tidak menginginkan neraka?

SEMAR

Loh, ya siapa juga yang mau di tempatkan di tempat yang gelap dan panas. Setitik api neraka yang menyentuh telapak kaki kita, yang terbakar tidak hanya tubuh kita tetapi ubun-ubun kita langsung meleleh. Oleh karena itu, aku selalu mencegah dan mengingatkan agar anak-anakku tidak terjerumus ke hal-hal yang buruk.

TOGOG

Nah, itu dia. Kita sudah kena tipu.

SEMAR

Loh, loh, loh. Mbegegeg ugeg ugeg, sak dulito sak dulito, mel mel … Kok bisa begitu?

TOGOG

Kita semua selalu menerka-nerka kebenaran, padahal kebenaran itu sendiri seperti angin di musim kemarau.

SEMAR

Aku semakin tidak mengerti, semakin bingung.

TOGOG

Ya memang, semakin kita mencari, semakin pula kita berada pada titik kebohongan. Tidak menemukan apa-apa.

Semar merenungi perdebatan dengan Togog

TOGOG

Hari sudah mulai gelap, sebaiknya kita pulang ke tempat asal kita masing-masing. Masih banyak tugas yang belum selesai.

SEMAR

Aku tidak tahu mau pulang kemana Kakang, aku sudah diusir dari tempat tinggalku. Aku dianggap azimat yang sudah berkarat, tidak sakti lagi gara-gara tidak bisa kentut.

TOGOG

Tidak sekali dua kali aku mengalami apa yang kamu alami saat ini. Tapi, Semar… Jadilah titik terkecil dari yang paling kecil dan berusahalah menjadi titik terbesar dari yang paling besar, agar kamu belajar untuk tidak menjadi apa-apa.

SEMAR

Bagaimana caranya aku tidak menjadi apa-apa, sedang tugasku juga masih belum selesai. Kakang kan tahu sendiri selama ini aku mendidik anak-anakku sampai mereka menjadi Kesatria yang kautamaning ngaurip. Aku hanya ingin kentut, Kakang.

TOGOG

Di dalam tubuhmu ada puncak tertinggi dari yang paling tinggi. Pergilah kesana, lalu heninglah sejenak. (tertawa kemudian pergi meninggalkan Semar) Sampai bertemu kembali, semoga kamu bisa kentut lagi.

Semar tertegun, tidak bisa berkata-kata, dan mencoba merenungi atas apa yang dikatakan Togog. Semar melakukan tapabrata di kaki gunung Mahameru.

_SELESAI_