Ke Mana Salema?

 

Aku bangun dan kamu tidak ada. Biasanya tiap fajar, kamu menepuk lembut lenganku hingga aku membuka mata. Jika aku bandel pura-pura tetap tidur, kamu memijit hidungku hingga merah. Namun, pagi ini aku terbangun sendirian. Kamu ke mana?

Aku bergegas bangkit. Kulihat langit Yangoon masih setengah ungu setengah merah. Gagak-gagak kelaparan mulai hinggap di pagar-pagar balkon rumah susun. Mungkinkah kamu sakit perut dan sedang duduk khusyuk di kamar mandi? Tetapi kamar mandi kosong. Mungkinkah kamu ingin melihat wajah Moon kala dia terlelap di keranjang bayinya? Tetapi hanya ada anak kita itu yang masih terlelap sambil mengemut jempol. Atau mungkin kamu di balik gorden, di bawah dipan, atau di belakang lemari untuk tiba-tiba muncul mengejutkanku sambil tertawa?

Aku takut. Aku selalu ketakutan bahwa suatu saat kamu akan pergi tanpa pamit seperti ayahku. Aku terbiasa kamu ada dan kamu berkata bahwa kamu akan selalu ada. Bukankah sore ini, usai kamu bekerja, kita berencana membawa sebakul jagung dan mengajak Moon memberi makan gagak-gagak di taman? Moon akan berusia setahun hari ini. Bukankah kamu selalu menepati janji?

Aku kembali ke kamar dan coba meneleponmu: ponselmu tidak aktif. Tak terdengar nada dering. Aku semakin takut ketika tak kutemukan koper besar berwarna laut yang kamu belikan untukku. Kamu berkelakar, koper itu muat untuk tubuhku. Jika suatu saat kamu berpesiar, entah ke Mandalay Selatan atau ujung utara Sumbawa (tempat kamu lahir), kamu akan menyimpanku di kopor itu dan selalu membawaku pergi bersamamu. Namun koper itu tak ada. Kamu juga. Apakah kamu pergi dan lupa membawaku?

Aku semakin takut. Kamu ke mana? Pertanyaan itu menggema di telingaku ketika aku melewati lorong rumah susun. Aku mengetuk pintu ruang apartemen Kyal Sin. Dia tampak masih mengantuk saat membuka pintu. “Aku titip Moon. Dia masih tidur. Salema tidak ada.” Aku tidak tahu apakah Kyal Sin sepenuhnya  paham. Gadis berkepang dua itu mengangguk-angguk ketika menerima kunci yang kuberikan, lalu dengan terkantuk-kantuk berjalan ke kamar kita.

Langit merah sudah mekar. Karena terburu-buru keluar rumah, aku bahkan lupa mengikat rambut panjangku. Longyi[1] hijauku robek di pinggir. Tapi aku tak peduli. Mungkin teman-temanmu di pasar tahu ke mana kamu. Di sepanjang jalan, kulihat penjual mohinga [2] sudah menata kursi-kursi. Pedagang paratha [3] sudah menyiapkan panggangan. Pasar tempat kamu membeli mawar, krisan, dan marigold—yang biasanya kamu rangkai menjadi persembahan para peziarah— sudah ramai.

Setibanya aku di kios bunga, kulihat Paman Phyo Ko keheranan melihatku sepagi itu. “Apakah Paman melihat Salema?” tanyaku dengan napas tersengal.

“Tidak. Sudah seminggu ini bahkan aku belum melihatnya. Kupikir dia pulang ke kampung halamannya.”

“Tidak, Paman. Kemarin dia ada di rumah. Dia pulang berjualan dan membawa sebungkus mohinga. Dua batang marigold yang tak terjual dia taruh di vas dapur. Tapi pagi ini dia tidak ada.”

“Oh, mungkin aku yang lupa,” cetus Paman Phyo Ko. “Sekarang saja aku lupa di mana kutaruh kacamataku.” Kulihat kacamata tebal bertengger di rambut tipis peraknya. “Mungkin dia langsung ke pelataran Pagoda Sule.”

Aku berbalik dan segera berlari. Puncak Pagoda Sule terlihat dari sini, seperti lonceng keemasan bertangkai panjang. Seandainya kamu ke sana, untuk apa kamu pagi-pagi pergi tanpa pamit? Apakah Thura yang memintamu untuk datang? Aku selalu bilang kepadamu, aku tak suka kamu bergaul dengan si Bengali itu. Mereka bukan bagian dari kami. Mereka dibiarkan menyusup diam-diam pada suatu malam berkat taktik licik pihak militer untuk mendapatkan suara demi mengalahkan partai Demokrat. Lalu setelah mereka banyak bertebaran di pesisir barat,  apa yang mereka lakukan kepada gadis Ma? Gambar-gambar kekejian yang diterima gadis Ma banyak tertempel di papan-papan pinggir jalan. Gambar-gambar itu membuatku takut. Jika mereka bisa melakukan kepada gadis Ma, mereka juga bisa melakukan kepadaku atau Moon.

“Mereka tak seperti itu. Mereka saudaraku satu iman,” katamu ketika aku mengungkapkan ketakutanku.

Aku menggeleng. “Mereka banyak membuat kekacauan di dusun-dusun yang berbatasan dengan daerah mereka. Kamu harus lihat itu.”

“Tidak seperti itu. Itu kasus kriminal biasa, tetapi pemerintah militer gunakan untuk mengadu-domba kalian. Setelah militer kalah dari partai Demokrat, Thura dan kaumnya tak dibutuhkan lagi. Kasus ini dibiarkan bergulir liar untuk mengusir mereka pergi. Aku turut bersedih untuk Ma, tetapi aku bersedih pula untuk Thura dan keluarganya. Gara-gara kasus itu, hidup mereka jadi sulit. Pekerjaan tak mudah mereka dapatkan.”

Aku berhenti bicara kepadamu saat itu. Aku sedih. Mungkin aku sedih untuk Ma. Mungkin aku sedih untuk diriku sendiri karena kamu tak memercayaiku. Mungkin aku sedih karena aku memang ingin sedih. Kadang aku memang ingin tenggelam dalam sedihku sendiri yang tak kutahu kenapa. Tapi semua tampak muram. Udara berwarna kelabu muda. Jika aku seperti itu, aku hanya ingin menangis. Kamu mengetuk pintu kamar yang kukunci dan berkata Moon membutuhkan air susuku. Tetapi saat itu, aku sedang tak ingin. Suara tangis Moon membuatku bingung. Aku takut aku bisa melakukan sesuatu yang buruk kepadanya ketika aku seperti ini.

Seperti pagi ini, aku sedih dan takut. Aku takut kamu pergi dan tak membawaku ikut dalam kopermu. Aku berlari dan berlari. Di hadapanku terlihat pagoda Sule yang sudah mulai ramai. Penjual bunga menawarkan bertangkai-tangkai krisan, mawar, dan marigold. Namun, tak kudapati sosokmu yang berkulit lebih cokelat dari kulitku (yang katamu seperti kunyit mentah) dan tak lebih pekat dari kulit Thura—seperti para Bengali lain—yang berwarna cokelat gelap.

Katamu aku harus berbincang dengan Thura. Jika aku memahami bagaimana dirinya, aku tak akan takut lagi. Tetapi aku tak bisa. Melihat Thura dan kawan-kawan Bengalinya dari kejauhan saja sudah membuatku ketakutan. Bagaimana jika mereka melakukan hal yang sama kepadaku seperti yang mereka lakukan kepada Ma?

Namun sekarang, karena mencarimu, aku terpaksa bertanya kepadanya. Kulihat kios-kios ramalan telapak tangan sudah membuka jendela. Juga lapak penukar uang milik Thura yang menyempil di sebelah utara pagoda Sule. Di balik palang besi, dia terlihat sibuk menyusun setumpuk uang 100 Kyat.

“Apakah kamu melihat Salema?”

Thura tampak terkejut. Dia menatapku seolah aku sesosok hantu yang tak seharusnya keluar di waktu siang. “Tidak. Harusnya kau lebih tahu. Dia sudah seminggu tak ke sini.”

“Jangan bohong!”

“Untuk apa aku berbohong. Aku yang ingin bertanya, apa dia baik-baik saja?” cetusnya sambil mengerutkan dahi. “Aku tak tahu mengapa dia ceroboh sekali. Tangan kanannya pernah patah. Kau pasti tahu itu. Katanya dia terpeleset di kamar mandi. Pelipisnya juga pernah  sobek. Katanya terbentur kusen pintu. Aku tak pernah melihat orang yang sesial dirinya. Apakah dia baik-baik saja?”

Aku mengangguk dan entah kenapa ingin marah. “Tentu dia baik-baik saja,” teriakku.  “Kemarin sore kami masih makan mohinga bersama dan dia membawa dua tangkai marigold yang dia taruh di vas dapur.”

Thura mengangkat bahu. “Mungkin dia ada urusan mendadak. Tunggu saja. Nanti dia juga akan pulang.”

Tiba-tiba ponsel di sakuku berbunyi. Dari Kyal Sin. Dia mengabarkan Moon telah bangun dan menangis sedari tadi. Tanpa pamit, aku berbalik.

Sepanjang jalan aku teringat kamu. Aku takut kamu kenapa-kenapa. Aku sering takut dan itu kadang membuatku ingin memecahkan benda-benda di sekitarku. Semua terasa tidak benar, terasa tidak pada tempatnya. Aku takut ketika kudengar suara Thura dan kawan-kawannya berbincang denganmu di depan rumah susun. Apakah mereka membenciku seperti mereka membenci kaumku? Aku takut ketika kamu tak menghabiskan masakanku. Apakah kamu merindukan masakan di negaramu? Aku takut ketika kamu mendengarkan lagu dengan iringan kendang itu. Apa namanya? Dangdut? Apakah karena kamu rindu kepadanya? Istrimu dulu seorang biduan, bukan?

Ketika aku melempar-lempar semua perkakas dapur dan berteriak-teriak, kamu mendekapku. Kamu tak peduli aku memukul lenganmu dengan centong nasi atau menghantam kepalamu dengan panci. Kamu tetap memelukku. Mungkin seandainya aku berubah menjadi sekotak peledak yang telah disulut pun, kamu tetap mendekapku. “Aku tahu, kamu sekarang menjadi kuda. Di Sumbawa, tempatku lahir, kuda-kuda liar berlarian membebaskan kaki-kaki mereka menapak di sabana ketika ketakutan.  Aku tahu, di dasar hatimu, kamu hanya takut. Kamu takut sesuatu yang tak pasti. Padahal satu-satunya yang pasti adalah ketidakpastian itu sendiri. Tenanglah. Saat kamu takut, kamu tak akan sendiri. Aku ada. Selalu ada.”

“Tidak! Kamu pasti akan pergi seperti ayahku! Aku membaca pesan di ponselmu. Kamu diminta pulang oleh ibumu. Katanya, negara ini tidak aman untuk muslim. Kamu akan pergi. Aku takut!”

“Aku tak akan ke mana-mana. Aku tahu, aku akan aman di sini. Ini bukan masalah agama. Kita hanya sedang diadu-domba.”

Namun itu dusta. Sekarang kamu tak ada. Aku sendiri. Itu membuatku semakin takut.

Sesampai di depan rumah susun, kudengar tangisan Moon. Kyal Sin membuka pintu sambil menggendong Moon di dadanya. “Dia menangis sedari tadi. Mungkin haus,” cetus Kyal Sin sambil menunjuk Moon. “Oya, aku masih mengantuk tadi saat kau datang meminta tolong kepadaku. Ada apa? Kenapa kau keluar sepagi ini?”

“Aku mencari Salema.”

“Kenapa baru sekarang?”

“Apa maksudmu?”

“Aku sudah tak bertemu kalian mungkin ada seminggu. Kupikir kalian berplesir entah ke mana. Kau ingat, seminggu lalu, malam-malam, kamu membawa koper birumu itu. Sepertinya berat sekali. Kau harus menyeretnya sekuat tenaga. Kupikir Salema mungkin sudah menunggumu di bawah bersama Moon.”

Kupikir Kyal Sin pasti masih mengatuk dan meracau. Aku tak pergi ke mana-mana. Aku di sini. Selalu di sini. Kemarin sore kamu pulang membawa mohinga dan kita makan bersama-sama. Kamu membawa dua tangkai marigold segar yang kutaruh di vas dapur. Aku berjalan ke dapur. Sudah kukatakan, bukan, di sana ada dua tangkai marigold. Tidak segar, sudah kering kecokelatan. Tetapi ada. Selalu ada.

 

 

[1] Sarung khas Myanmar

[2] Makanan berkuah semacam soto khas Myanmar

[3] Roti bundar khas India