Tanpa Batas

Kekuasaan dan Sastra Islam

Religion is dogmatic.

Politic is ideological.

Reason must be logical.

But literature has a privilege of being equivocal.

~Carlos Fuentes

 

Kelindan antara sastra dan religiositas bukan hal baru dalam sejarah umat manusia. Dalam banyak agama, sastra menjadi semacam medium dalam menyampaikan firman Tuhan; puisi bisa disebut sebagai tradisi yang paling panjang dalam menyertai banyak ajaran agama. Dalam Islam, firman Tuhan, buah pikir ulama dan sufi sering kali direkam dalam nuansa sastra. Di Inggris, gereja memiliki kontribusi penting dalam perkembangan kesusastraan; drama lahir dari atas altar gereja dan para biarawan mempunyai peran yang signifikan dalam mengembangkan tradisi prosa.

Di Indonesia hubungan antara sastra dan religiositas, khususnya Islam, telah terjalin sejak lama. Sejarah kesusastraan Indonesia, setidaknya, telah menelusuri jejaknya sejak abad 17 melalui Hamzah Fansuri. Rentang tema yang diperbincangkan juga luas; mulai dari persoalan yang transenden sampai dengan yang imanen. Keluasan tema yang ada ini membuat sastra Islam cenderung dapat diterima oleh banyak pihak. Walaupun begitu, dalam beberapa kesempatan, terjadi benturan antara karya sastra ini dengan pihak yang bersebrangan, baik secara politik atau ideologi.

Dalam tulisan ini, istilah sastra Islam lebih mengacu pada karya sastra yang menjadikan Islam sebagai sandaran ekspresi yang ada di dalam narasi karya. Pada praktiknya, pilihan Islam sebagai sumber nilai dan ajaran sering kali diterjemahkan secara berbeda oleh para penulis. Perbedaan ini adalah kelanjutan dari adanya perbedaan penafsiran yang dilakukan oleh para sarjana muslim atas setiap teks agama Islam. Oleh karena itu, apabila diperhatikan, sering kali terdapat perbedaan pandangan terhadap satu hal di dalam dua atau lebih karya sastra Islam. Perbedaan pandangan tersebut yang tidak jarang melibatkan kekuasaan.

Pada masa Orde Lama, seperti di masa Pujangga Lama, beberapa karya sastra bernuansa Islam cenderung membicarakan hal yang transendental. Novel Atheis yang terbit pada tahun 1949 dan ditulis oleh Achdiat Karta Mihardja kental dengan membincangkan soal Tuhan dan hidup manusia walaupun di sisi yang lain novel ini tidak lepas dari penggambaran kontestasi ideologi politik. Bagaimanapun juga, nuansa batin tokoh Hasan dalam Atheis tidak dapat lepas dari tarik menarik antara Islam sebagai sistem kepercayaan dan pengetahuan dengan ideologi Marxisme yang Nihilisme yang saat itu baru dia kenal.

Situasi sosial dan politik, baik langsung atau tidak, mempunyai pengaruh yang signifikan dalam dunia sastra. Di masa Orde baru, ekspresi keislaman sering sekali dicurigai dan diawasi oleh penguasa. Rezim saat itu masih melihat ekspresi keislaman dalam paradigma politik dan keamanan. Akibatnya, setiap implikasi dari ekspresi keislaman yang muncul, bahkan dalam bentuk sastra, akan dilihat melalui perspektif politik dan keamanan. Setiap bentuk ekspresi tidak boleh ‘mengganggu’ ketertiban.

Peristiwa penghakiman terhadap cerita pendek Langit Makin Mendung yang ditulis oleh Ki Pandji Kusmin dan terbit di Majalah Sastra edisi Agustus 1968 adalah representasi dari ikut campurnya kekuasaan dalam menilai sebuah karya sastra. Dengan segala kontroversi yang ada di dalamnya, cerita pendek tersebut dituduh telah menghina Islam. Namun, dengan mantap HB Jassin, sebagai pengasuh majalah, tetap membela dengan dalih kebebasan berekspresi. Dalam peristiwa ini, karya sastra sebagai ekspresi yang berangkat dari imajinasi harus diadili di hadapan perangkat hukum negara. Keresahan satu kelompok atas terbitnya sebuah karya sastra dianggap sebagai sesuatu yang mengganggu ketertiban, dan negara merasa perlu untuk memastikan gangguan itu hilang dengan cara menempatkannya di muka pengadilan.

Pada dekade 1990-an lahir Forum Lingkar Pena (FLP) yang memiliki kontribusi yang signifikan dalam produksi sastra Islam di Indonesia, bahkan setelah Orde Baru ditumbangkan. Kelahiran FLP sendiri adalah bagian dari dinamika gerakan dakwah Islam yang menjamur di banyak lembaga pendidikan. Berbagai karya yang dihasilkan oleh para penulis FLP ingin menunjukkan wajah Islam yang berbeda; Islam yang moderat, ramah, dan toleran. Hal ini dapat dilihat sebagai jawaban atas respons Orde Baru yang selalu melakukan pengawasan terhadap ekspresi keislaman di Indonesia yang sering kali diidentifikasi sebagai gerakan Islam politik.

Peristiwa politik di tahun 1998 berhasil membuka pintu kebebasan yang sebelumnya tersumbat oleh tindakan otoriter dari rezim. Ekspresi keislaman yang sebelumnya dipandang penuh curiga, pasca1998 bisa lebih leluasa muncul. Namun, bukan berarti di era ini kekuasaan vakum untuk melakukan kontrol terhadap karya sastra Islam. Kekuasaan lain muncul dan ikut intervensi dalam perbincangan sastra.

Pasca1998, perbincangan yang ada dalam narasi karya sastra Islam kembali beragam; dari hal yang bersifat prinsip sampai dengan soal kesalehan. Novel Adam dan Hawa yang ditulis oleh Muhidin M. Dahlan adalah salah satu karya yang terbit setelah tahun 1998, dan kebetulan menyinggung persoalan yang prinsip dalam Islam; tentang Adam dan penciptaannya. Dengan sangat berani novel ini bermain dalam wilayah yang bersifat prinsip dalam ajaran Islam. Selanjutnya, pembaca sastra akan melihat bagaimana perempuan ditampilkan secara berbeda dalam dua novel. Pertama, novel Perempuan Berkalung Surban, yang ditulis oleh Abidah El Khalieqy, menggambarkan seorang perempuan yang berani melawan konservatisme dalam dunia pesantren tradisional. Sedangkan dalam novel Ayat-ayat Cinta, yang ditulis Habiburrahman El Shirazy, perempuan lebih digambarkan sebagai individu yang tersubordinasi. Perbedaan posisi perempuan di dalam kedua novel tersebut adalah representasi dari perbedaan penafsiran dan bekerjanya berbagai diskursus tentang perempuan dalam Islam.

Menariknya, publik merespon kedua novel itu secara berbeda. Bagi peminat isu gender, Perempuan Berkalung Surban adalah deskripsi yang baik tentang tindakan opresi yang dialami oleh perempuan di dunia pesantren tradisional. Namun, bagi pihak yang lain, novel ini dianggap memberikan citra buruk terhadap Islam dan dunia pesantren. Hal yang sama terjadi pada novel Ayat-ayat Cinta. Di satu sisi novel ini menggambarkan bagaimana kesalehan tergambar melalui tokoh yang ada dalam cerita. Di sisi yang lain novel ini dikritik karena dianggap mendukung praktik poligami dan menempatkan perempuan pada posisi tersubordinasi.

Malangnya, perdebatan yang mengiringi dunia sastra sering kali melibatkan kekuasaan. Karena kekuasaan bersifat plural, maka dia hadir dengan beragam wajah. Dalam konteks perdebatan yang mengiringi sastra Islam, kekuasaan bisa direpresentasikan oleh negara melalui lembaga peradilan seperti yang terjadi dalam polemik cerita pendek Langit Makin Mendung. Di waktu yang lain kekuasaan direpresentasikan oleh lembaga keagamaan semacam MUI (Majelis Ulama Indonesia), seperti yang terjadi dalam polemik Perempuan Berkalung Surban.

Pelibatan kekuasaan dalam polemik sastra terjadi bukan tanpa sebab. Selain karena isu yang ada dalam narasi karya, yang terjadi adalah usaha dalam perebutan ruang diskursus. Pemilik kuasa selalu berusaha untuk mengintervensi ruang perdebatan demi untuk mengajukan ideologi yang dianut. Pada akhirnya, polemik yang mengiringi sastra Islam di Indonesia adalah bentuk dari pertarungan ideologi yang melibatkan pemilik kuasa, dan wajah kekuasaan dapat berbentuk negara, lembaga, organisasi masyarakat, dan lain sebagainya.