Komite Sastra Dekesda Panggungkan Pegiat Sastra Sidoarjo

Dokumentasi Dekesda
Para pelaku sastra di Kabupaten Sidoarjo bakal memiliki ajang untuk unjuk karya. Komite Sastra Dewan Kesenian Sidoarjo (Dekesda) siap memfasilitasi kegiatan tersebut. Saat dihubungi oleh tanpabatas.art, Ketua Komite Sastra Dekesda, Ferdi Afrar menyatakan bahwa program bernama Panggung memang sedang dikerjakan oleh Komite Sastra Dekesda pada kepengurusan periode 2022-2027. Secara umum, Ferdi memaparkan bahwa program Komite Sastra Dekesda dimaksudkan untuk mencapai beberapa tujuan antara lain 1) menjaga sekaligus menghidupkan ekosistem berkaryaan sastra di Sidoarjo serta 2) menghimpun para penikmat dan pelaku sastra yang berserak di Sidoarjo dalam satu wadah.
Panggung akan menghadirkan 2 penulis puisi atau cerita pendek serta 1 orang pengulas dalam satu acara. Panggung akan manyajikan gagasan dari penulis serta pembacaan dari pengulas atas karya. Selain itu, komite sastra Dekesda juga mendokumentasikan karya mereka lewat layanan penyimpanan digital google drive yang bisa diunduh oleh siapa saja. Selanjutnya, pria yang juga penyair ini berharap bila hasil kerja komite sastra bisa berkelanjutan, baik secara gagasan, acara, dan karya.
Disebutkan oleh Ferdi bahwa Panggung rencananya akan dihelat 9 hingga 10 kali pada tahun ini. Pada akhir tahun akan ada pameran arsip sebagai etalase apa yang telah dikerjakan komite selama 10 bulan. Panggung diharapkan menjadi wadah berkumpul para pegiat sastra di Sidoarjo. Selama ini ekosistem sastra di Sidoarjo lebih bergerak ke arah pelaku yang soliter. Ditambahkan oleh Ferdi bahwa pegiat sastra di Sidoarjo lebih nyaman berdiam di media-media sosial. Geliatnya pun dapat dikatakan relatif lebih sepi dibandingkan dengan aktivitas sastra di kota lain di Jawa Timur.
Selain itu, komunitas sastra di Sidoarjo pun dibilang sangat terbatas serta tidak merepresentasikan gerak sastra yang sebenarnya. Ferdi menambahkan bila ekosistem sastra yang terbentuk di Sidoarjo pun masih berupaya untuk konsisten pada tataran produksi karya, belum sampai kritis terhadap isu dan wacana kesastraan. Ferdi pun juga menyimpan harapan bahwa Panggung dapat menjadi ajang untuk merekatkan pelaku-pelaku sastra di Sidoarjo. Untuk sementara, Panggung bergerak dimulai dari komunitas yang mudah dijangkau, dalam artian komunitas dan jejaring yang sudah terbentuk. (DK)