Tanpa Batas

Mahar Kawin

Beginilah kalau cinta sudah kepalang tanggung. Akhyar, lelaki yang harusnya berusia sekitar dua puluh, bersikap seolah-olah dia masih anak kecil dengan usia sepuluh. Sejak kemarin malam dia tidak makan. Semalaman pun dia tidak tidur, entah karena cintanya atau karena laparnya. Akhyar sedang melancarkan protes pada ibunya. Kemarin pagi dia utarakan maksudnya untuk mempersunting gadis idaman kembang desa dari Baranusa. Dia berusaha yakinkan ibunya bahwa dirinya sudah siap untuk berumah tangga. Namun apa daya, ibunya menggeleng. Bukan, sang ibu bukan tak yakin atas tekad Akhyar. Dia yakin benar anak tunggalnya itu sungguh-sungguh mau kawin.

Begitulah kalau cinta sudah di ubun-ubun. Akhyar benar-benar alpa berhitung. Apa dia lupa, jika dia mau menikahi anak orang ada uang ganti yang harus keluarganya siapkan? Ada uang masuk minta, belum belis-nya, belum lagi biaya pesta. Ini juga kekasih yang didamba-dambainya bukan perempuan sembarang. Gadis itu cantik, kuliahnya dulu di Kupang, sekarang sudah lulus dan mengajar di sekolah menengah, anak kepala dusun lagi. “Akhyar… Akhyar..,” ujar ibunya sambil geleng-geleng kepala

Setelah adzan subuh ibunya bergegas membuka pintu kamarnya. Perempuan itu berharap aksi protes anak tunggalnya usai, lalu mereka bisa berdamai, dan Akhyar mau menyentuh kuah asam yang sudah ibunya masak dari kemarin. Namun,yang dia dapati masih sama seperti semalam. Anak itu masih termangu di pinggir jendela kamarnya. Tangan sebelah kanan menopang kepala yang dia sandarkan ke kusen jendela. Sementara tangan kirinya menjepit rokok. Di atas meja, asbak plastik sudah tak kuasa menampung puntung-puntung lagi. Ibunya berdehem. Akhyar tak menoleh.

“Sholat subuh dulu. Laporan dulu pada Tuhan, siapa tahu Allah beri kamu jalan keluar.”

Akhyar geming tak menjawab.

Akhyar sebenarnya bukanlah anak yang manja, walau dia anak satu-satunya. Akhyar dididik oleh bapaknya bahwa untuk mendapatkan sesuatu harus ada yang dikorbankan. Akhyar juga sepenuhnya sadar bahwa keluarga mereka selama ini hidup berkecukupan, berlebihan tidak, dibilang kurang pun tidak. Mau makan cukup. Mau bayar sekolah cukup. Mau kredit motor pun cukup. Untuk meminang seorang gadis pun sebenarnya juga cukup. Cukup jika Akhyar mau sedikit bersabar.

Keluarga Akhyar, seperti sebagian besar keluarga di Bakalang, adalah seorang pelaut. Mereka adalah turunan orang-orang Bajo yang mendiami Pulau Pantar sudah sejak ratusan tahun lalu. Pepatah mereka: kering dayung, kering periuk. Jika mereka tak melaut, mereka tak mampu bikin kenyang perut. Suli, bapak Akhyar, termasuk orang berada di kampungnya. Dia punya kapal motor yang sering mengangkut barang dari pelabuhan di Kupang ke dermaga-dermaga kecil Pulau Pantar seperti Bakalang dan Kabir. Sesekali Akhyar pun ikut bapaknya melaut. Sekali angkut biasanya orang, kambing, sepeda motor, sampai kulkas dan genset, berhasil dimuat. Biasanya Suli baru pulang dua hari sekali sambil membawa uang setas pinggang penuh yang langsung dia serahkan kepada istrinya.

Sebenarnya masalah pinang-meminang gadis tak perlu Akhyar khawatirkan. Cukup jika Akhyar mau sedikit bersabar. Tapi apa boleh dikata, beginilah kalau cinta sudah membabibutakan logika.

Suli sendiri bukan tak tahu rencana anaknya. Akhyar sebenarnya sudah bilang jauh-jauh hari pada bapaknya jika dia mau kawin. Waktu itu Suli hanya bisa tertawa. Tawa yang diartikan Akhyar sebagai jawaban iya dari bapaknya. Suli waktu itu memang baru hanya bisa tertawa. Bagaimana tidak? Saat Akhyar bilang mau kawin yang terbayang di kepalanya adalah berapa puluh juta uang yang harus dia siapkan. Utangnya pada Haji Sukron baru saja selesai. Uang-uang itu pun sudah dia rupakan keramik rumah dan mesin tempel kapal baru. Suli bukan tak mau anaknya buru-buru menikah. Baginya jika Akhyar sudah merasa siap, mengapa tidak? Tapi uang dari mana?

Hal itu pulalah yang membuat tangan kiri Suli tak kunjung lepas dari kreteknya. Beda tentu saja, orang yang mengisap rokok karena menikmatinya dengan orang yang mengisap untuk menghilangkan gelisah di dadanya. Rokok akan disedot dalam-dalam dan cepat. Kepul asapnya pun begitu tergesa-gesa. Di kepalanya kini ada dua kebimbangan sekaligus: anaknya yang butuh uang untuk kawin dan sebuah pertanyaan. Apakah uang yang dibutuhkan Akhyar sengaja dititipkan Tuhan pada orang-orang yang menumpang di kapalnya malam ini

Di kapalnya kini sudah ada lima belas orang termasuk Zakaria kawan seperahunya dan Sabiq keponakannya. Dua belas yang lain adalah penumpang. Dua belas penumpang ini nampaknya punya masalah yang sama dengan si pemilik kapal. Mereka mati-matian membunuh gelisah. Caranya berbeda-beda. Ada yang memutar tasbih. Ada yang meracau pelan tanpa henti. Ada yang menggigil. Ada yang muntah di dek. Suli, Zakaria, dan Sabiq lebih memilih menghabiskan rokok kretek.

Bukan hanya Suli dan seisi kapalnya yang lumat disantap gelisah. Beberapa ratus kilometer dari sana, tangan istri Suli gemetar. Dia baru saja menerima telepon dari suaminya. Ternyata gelisah bisa juga menular. Tapi istri mana yang tak khawatir jika suaminya bilang bahwa malam ini dia tidak pulang. Istri mana yang tak ciut hatinya mendengar sang suami menyabung peruntungan menyeberangkan imigran ilegal dari Afghanistan ke Australia melewati batas lintas negara dengan cara diam-diam dalam kegelapan malam?

“Ini gara-gara Sabiq. Dasar, apa tidak kapok dia dipenjara!” Akhyar uring-uringan mendengar kabar dari ibunya. Meski di dalam hatinya mati-matian dia menyangkal bahwa apa yang ayahnya lakukan semata-mata untuk mengumpulkan modal pernikahan untuknya. Akhyar tahu, tindakan yang ditempuh ayahnya tentu berisiko besar. Tidak jarang memang orang-orang di kampungnya dimintai tolong oleh orang-orang Arab untuk menyeberangkan mereka ke benua Australia. Hampir semua para pencari suaka itu tak punya paspor bahkan identitas. Mereka hanya membawa berbuntal-buntal uang yang cukup mampu membuat para pemilik kapal tergoda dan mengabaikan risiko tertangkap polisi laut Australia. Beberapa berhasil lolos, tidak sedikit pula yang tertangkap. Namun, baik yang tertangkap maupun yang lolos, selalu pulang dengan membawa berbuntal uang, jarang ada yang kapok.

Sabiq salah satunya. Usianya dua tahun di atas Akhyar tapi dia sudah menikah dan kini rumahnya salah satu yang paling besar di kampung Bakalang. Hasil dari bisnis seberang-menyeberang secara ilegal. Baru bulan lalu dia dibebaskan dari penjara Darwin. Sekembalinya dari penjara dia malah beli dua ekor sapi. Satu diikat di kandang belakang rumah, satunya lagi dipotong untuk pesta satu penjuru desa.

Sabiq rupanya berhasil membujuk Suli. Dia meyakinkan bahwa jalur yang mereka tempuh tergolong jalur yang paling aman. Suli percaya karena Suli tahu bahwa keponakannya ini sudah berulang kali lolos dari polisi perbatasan. Kalau toh sekali dia tertangkap itu pasti karena memang dia sedang dirundung sial. Dan Sabiq harusnya belajar dari penangkapannya yang pertama sebab jika dia tertangkap untuk kedua kalinya maka tahun-tahun yang dihabiskannya di penjara bakal lebih panjang. Begitulah hukum di Australia yang tertangkap untuk kali pertama masih akan dihukum ringan. Tapi tampaknya hukuman itu tak membuat para pelaut itu jera. Ancaman penjara hanya membuat mereka semakin tergoda dan tertantang. Seperti anak kecil yang disuruh tidur siang.

            “Matikan mesin dan semua lampu! Paman kau lihat kerlip lampu suar itu? Itu patokan kita. Kau biarkan lunas kapal lurus tapi usahakan sejauh-jauhnya dari lampu suar.” Sabiq memberi perintah. Suli hanya menurut saja. Lelaki itu sudah berhitung betul bahwa mesin kapalnya bukan tandingan kapal pemburu polisi perbatasan. Sekali keberadaan mereka ketahuan, maka tak ada lagi yang bisa dilakukan.

            Bisa dibilang keahlian Sabiq sebagai penyelundup ada pada tahap ulung. Sabiq sudah menghitung cermat-cermat mengenai waktu. Bahwa jika mereka berangkat sebelum Asar, dengan kemampuan mesin kapal Suli, minimal waktu awal Isya mereka sudah berada di lepas pantai Australia. Sampai di situ mereka hanya akan mengandalkan arus untuk sampai ke daratan terdekat. Jam-jam segitu juga bukan jadwal patroli. Jadi mereka aman. Asal mereka tenang. Asal mereka diam. Asal mereka tak dirundung sial. Sabiq tahu bahwa sekarang pasti para polisi itu sedang mengawasi laut dari puncak mercusuar. Mereka pasti sedang duduk berkeliling bermain poker. Badan mata ada di kartu tapi ekor mata tak rela lepas dari laut. Seperti singa jantan, meski malas-malasan, tapi tak bisa ikhlas jika ada mangsa lolos yang disia-siakan.

Mangsa itu pun kini sedang melaju tenang. Tenang meski orang-orang di dalamnya gelisah bukan kepalang. Mata-mata mereka mengawasi mercusuar, berharap menara julang itu dan segenap isinya tenang-tenang saja. Zakaria melekatkan telunjuknya ke bibirnya yang kehitaman. Memberi isyarat pada penumpangnya untuk diam, atau toh jika mau berdoa baiknya dalam hati saja. Tidak ada bedanya bagi Tuhan.

Kapal ini membiarkan ombak menggiring mereka sampai ke tujuan. Mereka berusaha menyatu dengan hening, menyelinap di antara suara debur ombak. Gelap malam menjadi satu-satunya tabir mereka dari singa-singa di atas sana. Mereka adalah mangsa yang pandai mengukur, bahwa satu-satunya peluang adalah dengan tidak kelihatan. Jangan harap ada adegan perkelahian atau kejar-kejaran, singa-singa itu bukan tandingan mereka.

Zakaria masih mengawasi para penumpang. Para penumpang itu saling menenangkan satu sama lain. Beberapa menyumpal mulut mereka dengan tangan sendiri. Di kepala mereka sudah terbayang sebuah negeri tempat mereka bisa memulai kehidupan baru, seperti yang diceritakan sanak saudara mereka yang berangkat terlebih dulu. Sabiq masih begitu mawas, dia berusaha menangkap gerakan dari arah ruang cahaya menara suar sekecil apapun itu. Sementara Suli? Suli dengan tenangnya melangkah ke ujung depan kapal. Dia berdiri dengan tegaknya. Sabiq menatapnya. Tatapan yang membuat mata para penumpang mengekor menatap Suli. Begitu pula mata Zakaria. Seolah-olah mereka bersatu-padu untuk menegur dan bertanya pada Suli: apa yang sedang kau lakukan di situ? Suli meringis seperti ingin menjawab: maafkan aku.

Cklik!

Sebuah senter besar menyala. Arahnya dari tangan Suli. “Sialan!” hardik Sabiq. Dia segera menerjang pamannya itu dan menariknya ke geladak.

Brakk!

Para penumpang terkejut. Begitu pula Zakaria. Sabiq segera menoleh ke arah mercusuar. Adakah pergerakan dari sana? Apakah mereka melihat cahaya barusan?

“Hmmm,” Sabiq menghela nafas. “Kita tertangkap,” lanjutnya.

Tiba-tiba mercusuar itu meraung. Ada suara mesin kapal yang dihidupkan. Kemudian suara orang berteriak-teriak. Perahu-perahu motor pun segera memburu asal cahaya persis seperti singa-singa yang terperanjat mengetahui ada mangsa di wilayah mereka.

Sementara para mangsa itu hanya mampu berdiam kuyu. Beberapa di antara mereka menangis. Sabiq terduduk tak percaya. Suli berdiri dengan tenang. Di antara mereka hanya dialah yang paling siap diterkam. Zakaria menyandarkan tubuhnya, mulutnya komat-kamit menenangkan diri “Astagfirullah… astagfirullah….”

“Astagfirullah!”

Istri Suli terperanjat. Dia yang semula sulit untuk tidur kini benar-benar tak bisa tidur. Wanita itu segera menghambur ke kamar Akhyar.

“Akhyar, bapakmu tertangkap,” ujar wanita itu gugup sambil menunjuk-nunjuk ke layar ponselnya. Dia menunjukkan pesan singkat yang dikirim bapaknya. Mereka membaca ulang pesan itu. Tiba-tiba ada satu pesan singkat lagi masuk. Pesan kedua dari Suli.

Tingtung!

Bunyi pesan terkirim. Suli menyunggingkan seutas senyum.

Pesan pertama yang ia kirim: Aku tertangkap.

Pesannya yang kedua: Jual semua ternak, gunakan untuk mahar kawin Akhyar. Jangan khawatir aku di sini baik-baik saja. Aku tetap bisa menghubungi kalian. Aku mungkin akan dipenjara dua tahun. Tenang saja, begitu kembali dari penjara kita beli lebih banyak ternak dan membangun rumah baru. Uang saku penjara di sini lebih dari cukup untuk itu.

Tingtung!

“Alhamdulillah!” desah Suli, begitu juga kata Akhyar dalam hati.

 

Pantar–Kupang, April 2016

 

Biodata
Salimulloh Sanubarianto, saat ini tinggal dan bekerja di Kupang, Nusa Tenggara Timur.