Tanpa Batas

Nekromansi

Abdul Aziz Muhtarom menyabetkan tiga batang lidi ke punggung telanjang muridnya yang lengas dihantam terik cuaca, dan dengan cepat rasa pedih menjalari tubuh si pesakitan; ia rasakan tiga gores luka telah mewujud ceruk yang purba, dan bulir keringat saling jejal dengan darah segar di kulitnya. Di hadapan delapan ekor kambing yang dicangcang di atas pancang, ia tugur dengan pose tubuh menyerupai seekor harimau putih yang tengah mengintai mangsa—meski jika diperhatikan dengan saksama, usaha itu membuatnya lebih mirip seekor kucing kampung yang tengah menahan berahi.

Demi melihat sang murid masih menetap mantap, Abdul Aziz Muhtarom berdecap kagum, dan sebentar kemudian  sabetan demi sabetan saling susul.

Ia pulang dengan langkah terhuyung-huyung. Sesekali ia tarik bagian belakang kaus agar permukaannya tak bersentuhan langsung dengan luka yang belum mengering, tetapi ia atur derap langkahnya sedemikian rupa untuk kembali tegap lurus acap berpapasan dengan orang-orang. Ia tak ingin membuat mereka menerka  ada rasa pedih tertentu yang sedang ia derita. Kata Abdul Aziz Muhtarom, Maung Bodas batal turba apabila ada pihak lain yang mengetahui ritual ini.

Setibanya di teras rumah, Mak Nde memintanya untuk segera santap sore. Perempuan tua yang bersahaja itu merasa cemas karena beberapa hari belakangan cucu pertamanya—dan satu-satunya—itu jarang sekali berbaur di dapur, dan sebagai usaha menarik minat dan menerbitkan liur, telah terhidang bekakak ayam dengan siraman madu odeng.

Sebagaimana titah Abdul Aziz Muhtarom, ia pantang mengudap makanan yang diolah dari bahan-bahan bernyawa—juga berwarna—selama tujuh hari tujuh malam. Hanya nasi dan sedikit garam, ditambah enam cangkir air bening—terutama hasil peram dalam kendi—yang boleh melintasi tenggorokan.

Alih-alih menuntaskan lapar-dahaga, ia segera berbelok menuju kamar mandi untuk membersihkan sekujur tubuh dari lengket dan peluh. Lalu dengan riang mematut diri di hadapan cermin setengah retak, yang aus dan telah menempel di kamar sejak rumah ini dihuni.

Dengan saksama ia hitung gurat tipis yang merentang menghiasi kulit punggungnya yang semula terlihat kalis kini menjadi kelus. Jumlahnya ada dua puluh tujuh, dengan letak yang tak beraturan, dan sebagian tampak melepuh. Artinya, dengan penghitungan sederhana, ia menerima sembilan sabetan.

Ia merasa kelukur yang diperoleh itu setimpal dengan pangabaran yang diberikan Abdul Aziz Muhtarom. Jika saja ia mengaduh-aduh tatkala mendapat sabetan, sehingga satu maqamat terlewat dengan percuma, pupus sudah segala yang diangan.  Beruntunglah tadi sore ia bisa melintasi tahap terakhir itu, sehingga kertas dan potlot yang ia simpan di saku celana bisa berguna untuk mencatat kalimat-kalimat azimat yang dirapal gurunya.

Ia sendiri  tak bisa memastikan apakah ejaannya tepat—sementara rasa segan untuk mengajukan pertanyaan bergelantung di dada—tetapi dapat dipastikan tak akan melenceng jauh. Kira-kira seperti ini; “Sima aing sima maung. Pangabaran singa macan. Sia sieun ka aing, lain aing nu sieun ka sia. Nur hak nur!!”.

Ia merasa beruntung sekali bisa mendapatkan kesempatan ini, dan jauh lebih bungah ketika pertama kali dipertemukan dengan Abdul Aziz Muhtarom.

Beberapa hari lalu, ketika tengah menonton pertandingan sepakbola antar kampung, ia bersua dengan pemuda itu untuk pertama kali di lapangan pisang. Tempat itu, pada dasarnya, disebut demikian karena di tengah palagan tumbuh satu pohon Randu besar yang menghalang, sehingga secara alamiah bentuknya tak lurus memanjang melainkan melengkung menyerupai buah pisang.

Pertandingan berlangsung sengit, dan dengan segera terhamparlah segala kericuhan yang sejatinya tak perlu. Kubu satu menuduh lawannya menyiram kencing seorang janda di tiang gawang, sehingga tiap sontekan terpental oleh bantuan jin dan mambang. Sementara kubu yang lain percaya bahwa seluruh musuhnya telah membalur betis mereka dengan liur anjing, sampai-sampai tak ada satu pun di antara mereka yang cedera meski ditekel berulang-ulang.

Saat itulah Aziz Muhtarom melintasi lapangan ditemani delapan ekor kambing cekingnya. Lantas, dua kubu yang semula terlibat perselisihan langsung bubar. Sementara itu, disudut terluar lapangan, ia menanap kedatangan Abdul Aziz seperti jerapah berjumpa rindang pohon akasia.

Berdasarkan taksiran sembarang, usia Abdul Aziz Muhtarom  lima atau enam tahun di atasnya, belum cukup untuk disebut dewasa, tetapi terlalu tua untuk bergaul dengan bocah.  Hari-harinya dihabiskan dengan mengangon kambing kacang milik Pak Lurah. Mungkin itulah sebabnya jika Abdul Aziz Muhtarom menghampirimu dalam jarak sepuluh langkah, kau akan segera menghidu aroma kurang sedap seolah-olah tiga ekor kambing bersemayam di lipatan ketiaknya.

“Jika kau mau orang-orang merasa segan padamu, aku akan mengajarkannya dengan senang hati,” katanya sembari menggebah gerombolan kambing.

Sebagaimana orang sakti yang bisa dijumpai di mana pun, laki-laki ini tampaknya memiliki kemampuan untuk membaca pikiran, juga rasa penasaran yang sejak tadi bergelantungan di kepala.

Digerakkan oleh rasa kagum, ia terdorong untuk mengekor langkah Abdul Aziz Muhtarom hingga tiba di kandang kambing. Pelajaran pertama yang ia terima adalah mengecek raga.

Kata Abdul Aziz Muhtarom, ia harus bertelanjang dada dan bersila dengan mata terpejam; memusatkan perhatian pada sosok Prabu Siliwangi, meminta karomah dengan penuh takzim.

“Tapi aku tak mengenali wajah Prabu Siliwangi,” ia menyela.

“Kau bayangkan saja seekor harimau besar berwarna putih, dengan tubuh dipenuhi kilau cahaya.”

Ia segera melakukan titah gurunya.

Ia lepaskan pakaian dan bersila di belakang kandang kambing, separuh tubuhnya tersorot lembut sinar mentari yang ditapis daun sukun. Dari arah yang tak bisa diterka, Abdul Aziz Muhtarom mengendus leher muridnya, menjilati tengkuk dan dadanya seperti seekor kucing bermain-main dengan tuannya. Lalu, ada satu sengatan menjalari tubuhnya.  Barangkali Prabu Siliwangi telah turba; memberikan karomahnya.

Demikianlah segalanya terjadi. Abdul Aziz Muhtarom memberikan seluruh perintah, menjelaskan segala pantangan. Sore tadi, ketika tiga batang lidi mengoyak kulit punggungnya, sang guru mengatakan bahwa pertemuan selanjutnya akan digelar  dua hari mendatang, dengan syarat membawa sesajen berupa tiga nanas muda dan tujuh batang kretek yang dilapis telur angsa.

Ia belum mencari permintaan tersebut.  Ia merasa lelah. Ia bahkan tak bisa merebahkan badan di atas dipan sebab luka gores itu semakin menyeruak. Ia lewati malam dengan bersila dan mematut diri di hadapan cermin. Barangkali ia tertidur dalam posisi itu, tak ada yang dapat memastikan.

Ia  tak ingat segala yang terjadi di hari-hari setelahnya, yang pasti pertemuan dengan Abdul Aziz Muhtarom urung terlaksana, sebab ia menderita demam dan tidur mengigau selama beberapa hari dengan menyebut nama Prabu Siliwangi; ia terperangkap di batas antara sadar dan tak sadar, di antara waras dan majenun.

****

Dengan sedikit gemetar, Ibu mendekap tubuhku erat seolah-olah ia tengah menjaga anaknya dari ancaman harimau lapar, sementara Ayah terlibat percakapan serius dengan Pak Walgito di dalam ruangan. Aku belum sepenuhnya mengerti apa yang terjadi, tetapi kukira ini semua ada kaitannya dengan tugas membuat cerita ketika berlibur.

Dua haru lalu saat pelajaran Bahasa Indonesia, satu demi satu murid dipanggil sesuai dengan urutan absen untuk maju dan membacakan cerita berlibur masing-masing di depan kelas. Aku senang mengarang dan sering mendapat nilai memuaskan.

Andri Haryanto maju terlebih dahulu. Dengan terbata-bata ia tuturkan pengalamannya berkunjung ke Universal Studio Singapore. Tidak jelas apa yang hendak ia sampaikan kecuali gambaran mengenai wahana dan lezatnya es krim.. Giliran Eva, teman sebangkuku, yang diam-diam menyalin tugas serupa yang dibebankan semester lalu. Ceritanya tentang bermain di Ragunan bersama keluarga, menaiki unta dan memberi makan kambing etawa.

Nama-nama lain disebutkan, dan mereka mendongeng tanpa minat. Ganjilnya, hingga bel pulang berdentang, namaku tak kunjung dipanggil. Aku merasa khawatir atas fakta itu. Benar saja, sepulang sekolah Pak Walgito bertanya apakah segala yang aku tulis benar-benar terjadi. Aku memberi anggukan kecil.

Barangkali, atas kejadian itulah kedua orang tuaku diundang datang ke sekolah.

Tiba-tiba Ayah membanting pintu.. Wajahnya terlihat coklat padam seperti biji badam. Ia mengatakan akan ke kantor polisi, berjanji hendak menjemput Abdul Aziz Muhtarom dan membuat belulangnya remuk, juga melampiaskan aneka makian seorang pemburu babi.

Sementara itu, diam-diam aku merasakan gerak lincah di dalam perut yang kian hari kian memberat. Seperti ada tendangan, dan sesekali cakaran, yang terasa hangat dan menggelikan. Barangkali, itu adalah kutuk yang ditimpakan oleh Maung Bodas sebab aku tak bisa menyelesaikan tugas hingga rampung, atau karena aku telah menuliskannya sebagai cerita. Aku tak tahu pasti. (*)

Lebak.

Catatan; diolah dari banyak kisah, lisan dan tulisan.