Tanpa Batas

Nurel Javissyarqi, 2008 Lalu

Pukul 09.00 WIB, 7 September 2021, Saya kaget bukan kepalang. Di tengah aktivitas, ada kabar duka yang saya baca kali pertama dari status FB novelis S. Jai. Lalu saya pun menilik grup WA Sastra Jawa Timur. Gerilyawan sastra Nurel Javissyarqi berpulang. Sebelum menerima kabar duka ini, pria kelahiran Lamongan yang juga lama berproses di Yogyakarta masih mengunggah beberapa status pemikiran kritisnya tentang Sutardji Calzoum Bachri. Ya, Mas Nurel juga saya kenal karena pemikiran kritisnya atas kredo puisi SCB.

Lalu ingatan saya pun melayang ke tahun 2008, saat saya baru belajar menulis puisi. Setelah beberapa kali saling berkirim SMS, saya akan bertemu dengan Mas Nurel di kedai buku paling ujung, dekat dengan Stasiun Pasar Turi, Jalan Semarang, Surabaya. Saat itu Mas Nurel selaku pengelola Jurnal The Sandour memuat satu puisi saya pada Jurnal The Sandour edisi III, 2008. Selain Sandour edisi tersebut, beliau juga berkenan membawakan saya buku puisi Ngaceng karya Mashuri dan Kitab Para Malaikat, salah satu buku puisi Mas Nurel. Kebetulan kedua buku tersebut adalah terbitan Pustaka Pujangga, penerbit yang dikelola oleh Mas Nurel.

Salah satu yang paling saya ingat dalam obrolan dengan Mas Nurel adalah kalimat, “Jadikan Sidoarjo sebagai kota yang membayangi Surabaya”. Tentu saja saat itu Surabaya adalah pusat segala perhelatan kesenian, termasuk sastra. Suara-suara sastra Jawa Timur ya jelas Surabaya. Sementara Sidoarjo sekadar kota penyangga belaka. Beberapa sastrawan seperti F. Aziz Manna, R. Giryadi, Mashuri, atau Lan Fang yang berdomisili di Sidoarjo, jelas-jelas lebih banyak melakukan aktivitas bersastranya di Surabaya. Motivasi itu juga yang saya sampaikan pada kawan-kawan seperti Ferdi Afrar, Arfan Fathoni, Angga Priandi, dan lain-lain. Selanjutnya kami pun mendirikan Sastra Alienasi Rumput Berbasis Independen (SARBI) yang berpusat di Sidoarjo.

Pustaka Pujangga adalah faktor lain yang mengenalkan saya paada Mas Nurel. Buku-buku puisi Mas Nurel diterbitkan secara independen oleh penerbit tersebut. Bahkan, saya melihat kenekatan adalah penggerak keberadaan Pustaka Pujangga. Hal ini saya lihat dari konsep ISBN pada setiap buku terbitan awal Pustaka Pujangga. ISBN versi Pustaka Pujangga ini bukanlah ISBN seri nomor buku yang diterbitkan oleh Perpusnas, melainkan InSyaallah diBerkahi Allah SuBhaNa wa ta ala (seingat saya).

Saya saat itu pun kerap menduga-duga bahwa Pustaka Pujangga merupakan manifestasi penyiaran karya-karya Mas Nurel yang sulit diterima oleh media massa pada era tersebut. Puisi-puisi “sufi” seorang Nurel Javissyarqi umumnya panjang dan menjadi semacam labirin teks yang sangat mungkin memengapkan pembaca. Namun, Pustaka Pujangga juga menerbitkan beberapa buku yang cukup menjadi bahan diskusi pada saat itu. Sebutlah Sastra Perkelaminan, kumpulan esai Binhad Nurrohmat maupun kumpulan esai Hudan Hidayat, Nabi Tanpa Wahyu. Bahkan, kumpulan puisi Mardi Luhung, Buwun yang memenangi Khatulistiwa Literary Award 2010 semula diterbitkan oleh Pustaka Pujangga.

Tidak ada pengarsip digital yang mungkin seistiqomah Mas Nurel. Laman sastra-Indonesia.com yang eksis sejak medio 2000-an cukup banyak mengarsip, terutama polemik-polemik sastra, baik yang terjadi di media cetak maupun yang terjadi di lingkup sosial media semacam facebook. Sebuah itikad luar biasa mengingat kerja pengarsipan sastra di Indonesia masih cukup payah. Saya berharap semoga sepeninggal Mas Nurel kerja pengarsipan di laman sastra-Indonesia.com masih berlanjut. Selamat tinggal Mas nurel Javissyarqi. Sampai berjumpa kembali di alam keabadian. (dody)

*sumber foto: sayap-sembrani.blogspot.com