Tanpa Batas

Penyair Merayakan Proses

Mengingat seorang penyair adalah mengingat proses yang telah ia lakukan. Ternyata, seorang penyair memang sosok yang gemar merayakan perubahan. Ya, penyair tidak dapat dibatasi. Penyair terkadang tidak puas dengan pencapaiannya. Bila dalam proses terasa kemandegan, ia akan langsung berpaling mencari sesuatu yang lain. Dalam bahasa Nirwan Dewanto, penyair akan selalu berusaha memperbaiki mediumnya sendiri. Dan medium seorang penyair adalah bahasa.

Penyair pasti tidak pernah puas dengan bahasa yang ia gunakan. Akibatnya, pada suatu ketika, penyair akan beranjak dari tata estetika bahasa yang biasa menjadi gaya ucapnya. Ia akan menjelajah tata bahasa lainnya, kadang hingga menyimpang. Bahkan, penyair tetap membandel meski ia telah mengucapkan sebuah kredo, manifesto, atau apalah.

Bagi seorang penyair, hal-hal semacam itu hanyalah luapan sesaat. Kredo, manifesto, pernyataan, atau sejenisnya tidak lebih hanya memasung penyair pada satu titik tertentu. Padahal, penyair yang menjadi mesti terus bereksperimen dengan mediumnya. Dengan kata lain, penyair akan terus melawan dirinya sendiri.

Bukankah, kasus ini juga yang kita temukan pada sosok Sutardji Calzoum Bachri. Presiden penyair kita ini pernah mengeluarkan kredo mantra. Ya, membebaskan kata dari makna dan pengertiannya serta kembali pada mantra. Mantra adalah mula kata. Kredo ini pula yang membuat teks puisi Sutardji pada tahun 70-an begitu gahar sekaligus menguarkan pesona.

Tetapi, kesangaran Sutardji tidak akan kita temukan pada puisi-puisinya yang terbaru. Ternyatalah, kata memang tak dapat dipisahkan dari makna, dari kamus, dari kesepakatan yang melingkupinya. Jadilah, Tardji kembali pada kata-kata yang terikat, kembali pada sedalam-dalam sajak takkan mampu menampung air mata bangsa (Jembatan). Akhirnya, puisi-puisi Tardji sebenarnya tak lebih dari pencarian panjang dan melelahkan mencari Tuhan. Mengutip apa yang dituliskan penyair Saut Situmorang, Sutardji harus mengkhianati puisi demi taman sufi ilusi setengah hati.

Penyair Jawa Timur pun tak berbeda jauh dengan Tardji. Mardi Luhung pernah tampil sangar dengan semangat pesisiran. Puisi-puisinya seolah wujud ledakan imajinatif atas hal ikhwal di sekitar, peristiwa remeh temeh yang ia temukan. Yang pasti, imajinasi Mardi terlalu liar jika ditampung dalam mainstream utama puisi Indonesia. Untuk itulah, kencing di semak, molotov yang beku, gambar porno serta sebungkus krupuk borak, sudah tak ada kakus, atau memutar kelangkangnya adalah hal yang lumrah dalam puisi-puisi Mardi. Seperti ditulis oleh Mardi dalam kata penutup kumpulan puisi Ciuman Bibirku yang Kelabu bahwa aku suka membayangkan hal yang aneh-aneh, khayal dan fantastis.

Puisi-puisi Mardi yang terkini justru berlawanan dengan kesangaran yang ia tawarkan pada 90-an hingga pertengahan 2000-an. Puisi Mardi terkini seolah menampik untuk tampil sangar. Memang, hal remeh temeh masih tetap menjadi dasar pijak. Namun, puisi Mardi kini lebih tertata serupa dongengan. Dalam esai Umar Fauzi Ballah, puisi Mardi menyerupai cerita berbingkai. Meski tidak datang dengan bahasa kasar, imajinasi liar dalam puisi Mardi kini lebih terkendali. Imajinasi itu terwujud dalam suspense yang gemar hadir di dalamnya. Ya, membaca puisi Mardi Luhung terkini (dalam kumpulan Buwun atau Belajar Bersepeda) tidak akan lengkap bila tidak sampai dituntaskan.

Posisi Indra Tjahyadi sebagai salah seorang pemeluk teguh puisi gelap memang tidak dapat dipungkiri. Indra adalah salah satu penyair yang membawa bendera puisi gelap di kancah perpuisian nasional. Bersama beberapa penyair lain seperti Deny Tri Aryanti, W. Haryanto, atau Mashuri, Indra berhasil menjadikan Surabaya sebagai kota yang lekat dengan puisi-puisi gelap.

Dalam Manifesto Puisi Gelap, Indra menyatakan bahwa tugas penyair adalah menyelamatkan manusia dari kejatuhan mengerikan ke jurang kebanalan dunia. Karenanya, penyair harus menghancurkan dunia. Caranya dengan melakukan penggelapan makna: sejauh mungkin mendorong puisi bekerja dalam tataran pemaknaan paling ambigu. Meski tidak seekstrem kredo mantra dari Sutardji, Indra cukup berani mengingatkan khalayak untuk berpaling dari kamus, dari makna.

Tetapi, puisi-puisi Indra Tjahyadi juga bukan puisi yang total harus berpulang pada kegelapan. Membaca puisi-puisi Indra yang ditulis pada medio 90-an hingga pertengahan 2000-an, pembaca akan menemukan bahwa Indra meyakini kemurungan sebagai celah untuk menyelamatkan manusia dari kejatuhan. Bersepaham dengan Ribut Wijoto dan Arif B Prasetyo, puisi Indra mengangkat tema-tema mimpi buruk, kehancuran, kegilaan, chaos, hingga nekrofilia. Penyair Ferdi Afrar bahkan sempat memberi klaim bahwa puisi-puisi lawas Indra adalah puisi-puisi horor. Diamini pula oleh Ribut bahwa realitas yang dibentuk oleh Indra adalah realitas yang masih dapat dibayangkan. Dengan demikian, konsepsi puisi gelap Indra bukanlah konsepsi puisi gelap secara bulat dan total.

Manifesto memang tak dapat menghalangi penyair untuk terus berubah. Meski telah menyatakan kegelapan puisi, Indra ternyata tak ingin mengingkari proses. Dalam esai Sastra Indonesia Mutakhir Jawa Timur, Arif B Prasetyo memaparkan bahwa puisi Indra Tjahyadi mengalami pergeseran. Puisi-puisi Indra Tjahyadi kini lebih menampakkan duka yang berlarat-larat. Titik tolak perubahan ini ditandai ketika Indra mengeluarkan kumpulan Syair Diancuk Jaran. Kemurungan yang semula tak terjangkau nalar kini lebih terasa dekat dengan pembaca.

Meski termasuk salah satu pengusung puisi gelap, nama Mashuri lebih jarang dibahas esai-esai perpuisian di Jawa Timur. Hal ini dapat dimaklumi karena sejak mula, Mashuri memang tak beritikad mengusung puisi gelap. Dalam kumpulan Manifesto Surrealisme misalnya, puisi Mashuri justru lebih tampak realis. Keliarannya sebatas pada tataran kata atau kalimat. Dengan tataran makna yang lebih dapat direka, Mashuri lebih cenderung menampakkan puisi-puisi horor.

Pilihan estetika semacam inilah yang membuat Mashuri dapat terlepas dari puisi gelap lebih cepat. Di saat yang lain masih berkutat dengan kegagapan bahasa, Mashuri tampil dengan puisi yang lebih cerah sekaligus nikmat untuk dibaca. Diksi semacam dari tubuhmu, aroma buah menebar di udara / cuping pembauanku menangkapnya dalam bulatan-bulatan / gaib, merasuk ke lubuk hidungku – menjelma / kebun maya (Imaji Bebuahan) menjadikan puisi Mashuri lebih liris dan kaya bunyi. Pilihan ini mendekatkan Mashuri pada estetika A Muttaqin.

Tidak ada penyair Jawa Timur yang getol dengan uji coba selain F Aziz Manna. Dalam buku Siti Surabaya dan Kisah Para Pendatang serta Wong Kam Pung, Aziz mengukuhkan diri sebagai penyair yang dekat dengan Surabaya. Menepikan aku dan memilih kami sebagai pilihan kata memang mendekatkan Aziz dalam subjek universal. Kami Aziz tampil seolah kami Surabaya.

Yang menarik, Aziz juga pernah menulis puisi-puisi hemat kata semacam bulan / bundar / langit / cerlang // ia yang di sini / terhuyung menanti (Bersampan Memandang Bulan) atau di atas pemandian / bulan terbelah awan / pelan di air tenang / bayangan setangkup hitam / melayar di sisi ikan-ikan / bulan terbelah awan (Bulan Terbelah Awan). Berbeda dengan puisi-puisi Suroboyo-an ala Aziz yang menembak identitas, puisi-puisi ini lebih memburu kedalaman.

Aziz juga gemar pada eksperimen, termasuk pada hal-hal remeh semacam tipografi. Satu puisi bisa dijadikan hingga sekian puisi oleh Aziz. Judul-judul semacam Sajak Panjang Tentang Kota Mati, Montase Kota Mati, dan Catatan Peristiwa dalam Hujan pada Suatu Hari (Sajak 1-23) sebenarnya adalah satu puisi yang sama. Bahkan, eksperimen Aziz pernah menghasilkan puisi-puisi “aneh” semacam Tahu Isi atau Semakin II.

Kasus lebih khusus menimpa Ribut Wijoto, penulis yang gagal menjadi penyair lantas beralih menulis kritik. Dan terbukti, Ribut menjadi salah satu kritikus berwibawa di Jawa Timur. Walapupun berulangkali mengklaim diri bukan penyair, Ribut tetap memiliki itikad menulis puisi.

Awalnya, puisi-puisi Ribut menunjukkan ketenangan, kelembutan, bahkan kebersahajaan terhadap kata. Larik semacam  sengaja aku mencintaimu / lalu biarkan kukirim surat / seperti suratku yang tiada henti / mengalir ke tubuhmu // (Sengaja Aku Mencintaimu, 1996) mau tak mau mengingatkan kita pada teknik penulisan Sapardi yang sederhana mengalirkan kata.

Puisi-puisi awal Ribut juga menunjukkan tendensi mengarah pada kedalaman. Yang dalam dan sederhana ala Subagio Sastrowardoyo. Dalam esai Ribut yang berjudul “Krisis Kepenyairan Kita”, Ribut menyebut bahwa puisi-puisi model Subagio Sastrowardoyo yang sederhana namun menyimpan kedalaman sangat jarang ditulis. Puisi-puisi rimbun, tenang, dan dalam telah tergusur oleh banjir puisi lirik yang sangat dominan menghidupi dunia perpuisian Indonesia saat ini.

Namun, keyakinan dan kefanatikan Ribut terhadap antroposentrisme Afrizal Malna, juga pengaruh dari teman-teman sekomunitasnya membuat puisi Ribut bergeser dari yang tenang ke yang beringas. Kata-kata tak lagi tenang dan tampil dengan membawa dirinya sendiri. Yang hadir adalah kata-kata gawat (atau digawat-gawatkan?) dan impresi yang terkesan memaksa. Rupa kampung terlongsor idiom-idiom tahta, / bapak kawin lari dan terbatuk-batuk, / pondok ditegaki kaca melulu, kaca melulu, / diri terkontaminasi. Ambisi. Pada dataran payudara. / Apakah keinginan ingatanku….(Sepeninggal Shamsi Tabriz, 2004). Pilihan ini tentunya wajar mengingat Ribut percaya pada proses.

Apa pun yang terjadi, penyair adalah sosok yang terus berubah. Kredo, manifesto, atau apa pun namanya bukan penghalang bagi penyair untuk melanjutkan proses. Bila tetap setia pada kredo, bisa jadi penyair akan terlibas dan tergilas oleh masa depan. Ya, masa depan seorang penyair memang kejam dan kerap menjadikan penyair sebagai korban pusarannya. Wassalam.

 

Biodata

Dody Kristianto, pegiat Kabe Gulbleg. Ia tinggal di Serang, Banten.