Tanpa Batas

Puisi-puisi Herwan FR

Kelahiran

“”Bagus Burhan””*) bisik semesta
pada satu nama, seperti telah
ditulis sebelum tanda pertama.

Kelahiran adalah janji,
kematian adalah ia yang
pasti menepati.

Bapak yang percaya berkah,
bersiap melantunkan adzan.
Seorang paraji khusyu,
menyimpan doa pada sirih kinang.
Pada ludah, mantra brojolan*) yang
akan disemburkan.

Langit membentang biru, sebiru
beludru, sebiru warna selendang
bebenting*)

Waktu mengetuk Duhur.
Di mana Tuhan telah menitah
Malaikat tiba menjinjing berkah.

Gerbang rahim perempuan bertrah
Kesultanan Demak mengeluarkan ketuban,
membuka jalan bagi jabang
mengenal angin dan air mata.

Emban membasuh luka.
Kyai menyematkan doa,
di kepala anak lanang
dalam ritual puputan dan sepasaran.

Perkutut berbunyi di pucuk perdu,
Tekukur bernyanyi di ranting randu.

2019-2020

*) Bagus Burhan adalah nama kecil Raden Ngabehi Ronggowarsito
*) brojolan adalah sebuah tradisi budaya Jawa untuk menyambut kelahiran bayi agar bayi selamat
*) bebenting adalah melilitkan selendang pada perut ibu yang baru melahirkan dengan sebuah selendang, dengan tujuan kesehatan perut, dan sebagainya.

 

Sebuah Gelar

Pada jingga bunga pohon mata lembu,
burung prenjak berjingkrak lucu.
Seekor ular air, menyelusup
ke sela daun eceng gondok yang
rimbun menutup.

Dari jauh, belibis terbang
ke kubang genang, seperti lambang
seorang pengelana yang pulang.

Dan pada rindu yang tak lagi tabu,
peluk-rindu perempuan yang lama menunggu,
ia menerima pangkat dan gelar, seperti gelar
di masa lalu, jauh sebelum ia didekap wahyu.

Raden Ngabehi!
Raden Ngabehi!
Raden Ngabehi Ronggowarsito!

Gema adalah desir semesta,
ingatan pada bisikan pertama,
yang ia sendiri, telah lama melupa.

“”Jeng Ayu Gombak, Istriku
apa pangkat akan jadi muara
akhir, arus jiwaku yang terus
menderas ini?””

Barangkali ia memang beda,
barangkali, ia memang beda.

Angan terusik oleh warna dan pigura.
Cangkang segala cangkang, yang akan hengkang.
Kata dalam kepala dibiarkan menganga.
Dan angin, seperti dulu, akan bebas tiba.

“”Kembalilah Kakang,
kembalilah dalam diri!””

Perempuan bermata doa itu melepas
konde sanggulnya. Membiarkan rambut
terurai menjadi malam, yang benar-benar malam.

2019-2020

 

200 Tahun Kemudian

200 tahun setelah silsilah tua itu
Ramalan-ramalan purba itu;
Kita gemetar di sini, di tepi pintu
rumah ini.
Halaman menjadi seperti menakutkan
Jalan-jalan bagai penuh rajah siksa—

200 tahun setelah riwayat pujangga Jawa itu
Kita gemetar dan kecut di sini.
Pohon-pohon masih berdiri dengan satu kaki.
Daun bertasbih dalam guyur hujan dan sengat cahaya
Matahari.

Dan Tuhan bagai memberi lupa:
Kebebasan lalu tidak sejalan kebajikan
Kebijakan tidak berdasar hati nurani
Langit separuh lembayung
Dan burung meluruhkan bulu
Nyangkut di tangkai melinjo

Lalu kita tak tahu:
Tuhan tengah menguji
atau mengutuk–

Kota jadi sepi
Ketakutan seperti iblis yang berlari.
Kecemasan seperti mata hantu pengintai.
Orang-orang menutup pintu
bersembunyi bukan oleh perang
tapi wabah lembut yang bisa melepas renggut.
Barangkali kita lupa, Tuhan pernah membuat kisah
tentang kalut, tentang maut pada sebuah gurun–
pada sebuah angkuh yang dihancurkan
atau pongah yang diluluhlantakan
Seorang Wali berbicara dengan wabah To’un
Di perbatasan, sebelum maut mengerubung
seperti ribuan lalat.

200 tahun kemudian
Kita berharap hidup masih nyata
Tak mengapa anak-anak bersekolah di rumah
Tak mengapa buku dan kata tereja
dengan lelah mata.

Di halaman belakang kita tanam palawija.
kita berharap kesederhanaan
jadi bahagia
kita tak perlu mengenal gedung tinggi
cukup mengenal siapa diri–

200 tahun kemudian
Pada pintu terkunci
dan sesekali terbuka

Akankah kita abadi
dalam jalan-jalan sunyi,
dan orang-orang memeras mimpi?

200 tahun kemudian
Setelah riwayat purba
Setelah silsilah tua
Kita berharap

Air mata dan doa masih berbuah berkah
pada tanda—

2019-2020