Tanpa Batas

Puisi-puisi Muhammad Daffa

DONGENG IBU

Ibu mengembara ke pelosok-pelosok terjauh dari dirinya
Menggelandang tangis sendirian. Ibu mengembara
Ke berbagai kota. Menggelandang nasibnya seorang diri
Tanpa kawan sekadar bicara. Aku sangat ingin menyusulnya
Ke dalam pengembaraan itu. Tapi ibu selalu mengingatkan aku
Untuk tetap menjaga bahasa Indonesia yang terbata-bata mengeja negara.

Kadang-kadang aku merasa kesal mengapa harus kuasuh Bahasa Indonesia
Seorang diri, sedangkan Ibu tak jelas pergi ke mana. Tak jelas juga kapan pulangnya.
Di hari-hari libur terkadang ia masih bisa meneleponku. Barangkali sudah ketemu
Dengan apa yang dicari, tapi nyatanya tak pulang-pulang hingga kini. Ibu meninggalkan
Aku dan  bahasa Indonesia yang payah mengucap ayah. Ibu meninggalkan bahasa Indonesia
Dan aku yang mengeja doa-doa dengan bersusah-payah.

Surabaya, Maret 2021

 

HANTU JAKARTA

Jakarta bersembunyi ke dalam diriku. Tubuh yang sibuk
Meracau tentang masa depan. Jakarta berbisik
Ke dalam diriku. Tubuh yang sibuk
Mengejar cita-cita klise: jadi penyair sungguhan!
Seorang perempuan menulis puisi
Dan mengirimkannya ke alamat tubuhku
Sebuah rumah dengan berbagai kesibukan
Jakarta tumbuh dan hidup di sana
Menemani racauanku tentang masa depan
Sekaligus hari-hari lalu yang menghantui pikiranku.

Jakarta memenuhi diriku. Tubuh yang digembala rutinitas
Dan kemacetan cuaca. Berbagai keinginan bunuh diri
Kucatat di sebuah lembaran hvs. Barangkali seseorang
Membacanya sebagai puisi cengeng yang perlu dikirim
Ke sebuah majalah sastra. Tuhan tiba di suatu pagi
Lantas menorehkan bahasa-NYA ke atas hvs
Berisikan catatan dan upaya-upaya bunuh diri
Yang ingin kulakukan

“Wahai hamba-Ku
mengapa ingin kau sudahi
masa-masa lugumu
memahami Jakarta?
Jakarta masih ingin sibuk
di dalam kamu
menulis seribu puisi cinta!”

Hari-hari yang lewat menjerumuskanku ke dalam situasi pelik
Membaca Jakarta sebagai bagian lain dari diriku

Sudah berapa kali Jakarta menjelma hantu, meninggalkan tanda
Bagi tubuhku, sebuah rumah dengan berbagai kesibukan
Tak ada sudah. Jakarta mengutukku sebagai orang asing
Dengan perjalanan tanpa koper. Mengutukku sebagai si bangsat
Yang mengembara dengan pikiran-pikiran busuk mengenai masa depan.

Kamar Renungan, Juni 2021

 

VARIASI KITA DALAM PERTEMUAN

Kupilih bibirmu sebagai pengampunan
Malam ke malam mengulang lagu yang sama
Sepasang kita adalah pengembara tanpa wahyu
Hanya saling menduga nama-nama
Di waktu ke berapa ada kalimat cinta
Yang kembali diucapkan
Sementara tubuhmu-tubuhku
Telanjur habis ditelan angin kemarau

Di hari-hari yang paling menentukan
Kita akan sama pulang
Membawa segulung rencana
Kau menjelma seorang pembaca cuaca
Sedangkan aku tetap menyaru bising peribahasa
Di sebalik catatan harianmu

Surabaya, Juni 2021