Tanpa Batas

Puisi-puisi Setia Naka Andrian

Bunga yang Tumbuh dari Perahu
:fa

Bunga, kau mawar yang tumbuh
dari perahu-perahu. Seratus abad
lamanya aku menunggumu. Di tepi
mimpi yang mekar dari ujung telunjuk
yang pernah kau arahkan mengaliri
sepanjang garis telapak tanganmu.
Mengalir, mengalir, dan menganakpanah,
hingga sekarang, ketika kau tumbuh
dewasa.

Lihatlah bunga, jarimu telah menemukan
putaran roda dalam doa yang mengatasnamakan
mataku kepadamu. Sungguh, kau melampaui
kebaikan-kebaikan yang mengabadikan
peristiwa.

Bunga, tahukah kau, kini kau semacam
tanah airku. Sungguh, kau tiba-tiba menjadi
ruang angkasa. Apa lagi semenjak orang-orang
telah yakin jika tubuhmu terbuat dari pahala.
Setiap pagi, kau semakin tumbuh dari doa-doa
yang ramah mengatasnamakan manusia.
Sebagai umat yang memburu garis tangan,
yang belum tentu disepakati bersama-sama.

Sanggar Gema, Juli 2014

 

Perasaan yang Menjadi Dinding Rumah
:fa

Sayang, percayalah, kelak perasaan kita
akan menjadi dinding rumah yang paling
mekar setiap harinya. Lihatlah, dada kita
sudah mahir berjabat cerita. Udara yang
dikeluarkannya telah menjadi cahaya paling
ramah. Mengawali setiap ucapannya dari
persoalan-persoalan kecil yang sering
dilupakan orang-orang. Bahkan, kita selalu
berusaha menyelesaikannya dengan hanya
mengingat bagaimana kesedihan telah mahir
menipu kita.
Bayangkan saja, dada kita selalu berusaha
menahan bagaimana kecemasan yang selalu
mengawali keyakinan kita. Dada kita telah mahir
bagaimana membacakan doa dan bagaimana
mengutuk dosa. Dan sepertinya, mereka telah
menemukan jawaban dari beragam pertanyaan
yang dulu sempat kita perdebatkan. Saat itu, kau
tak begitu pandai menyembunyikan rahasia
seperti sekarang. Kau melakukan semuanya
kepadaku, termasuk kesedihanmu yang selalu
kau luapkan dengan rindu.

Bilik Kunang-kunang, Juli 2014

 

Jika Benar Kau Turun

Jika benar kau turun sebagai pedang,
maka doakan aku sebagai penjara.
Lalu bebaskan aku dengan pura-pura.
Namun jika kau turun sebagai kota,
berilah aku risalah mengenai sebuah
desa yang pernah kita telusuri bersama.
Ketika kita masih sama-sama mencari
tahu bagaimana perasaan orang-orang
yang membenci kenangan dan bagaimana
kebencian mengatasnamakan dirinya.
Kepada air mata orang-orang itu, dan
seberapa jauh kita menaruh penyesalan.
Sebagai kata terakhir yang pernah kita
ibaratkan bersama-sama pada sebuah
rumah yang saat itu sedang dipertaruhkan
dengan nama tuhannya masing-masing.

Sanggar Gema, Juli 2014

 

Biodata
Setia Naka Andrian, Lahir dan tinggal di Kendal sejak 4 Februari 1989. Pengajar di Universitas PGRI Semarang. Menerbitkan buku puisi, Perayaan Laut (April, 2016), Manusia Alarm (Agustus, 2017), Orang-Orang Kalang (Agustus, 2017). Meraih Penghargaan Acarya Sastra 2017 dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Meraih Anugerah Sastra Litera 2018 sebagai Penulis Puisi Unggulan. Juara 1 Penulisan Puisi Festival Sastra Jawa Tengah 2019.