Tanpa Batas

Puisi-puisi Wahyu Arya

Pelajaran Pertama Manulis Berita

Pelajaran pertama menulis berita adalah membuat rumah
mungil di tepi bahasa. Bikinlah satu matahari kecil
yang sinarnya redup saja supaya oksigen bisa masuk
buatlah juga jendela informasi dari bata merah darah
para demonstran

Selanjutnya, pastikan bahwa semua huruf di laptop
tidak beterbangan menjelma kupu-kupu yang lebih sering hinggap
pada halaman sebuah prosa. Alphabet lebih sering ingin menjadi semut
yang berputar-putar pada tepi gelas kopimu. Saat itu padamkan rokok

Langkah beikutnya, mulailah menyusun cerita dan rencana
tentang peristiwa-peristiwa yang luput dari tangkapan kamera
atau bisa juga memulai menjawab pertanyaan-pertanyaan
5W dan 1H. Hindari jawaban pasti pada tikungan pertama
karena itu akan menyesatkan rute seorang pencari, jalan para pewarta

Setelah tubuh kalimat terlihat bugar, tak usah tergoda
untuk memberinya tatto kura-kura. Itu lucu tapi berbahaya.
Biarkan ia lolos dari stigma. Berita yang sehat punya kalimat-kalimat
yang mengembang bagai sayap bagai parasut tentara
ia akan berkembang biak seperti seekor sapi tapi tak mudah basi.

Mengenai judul, buatlah semenarik mungkin
Judul yang baik layaknya kilatan paha setengah terbuka
Bukalah setengah saja, rasa ingin tahu akan menjadi modal clickbait
Dimana manusia-manusia tanpa kepala akan berselancar pada lorong-lorong algoritma

Bagi para pemula, hindari menulis berita politik
Sirkus kata-kata akan cepat mengocok perut dan isi kepala
Wartawan yang baik tahu kapan ia mabuk dan kapan saat bekerja

Sebagai pemula ada baiknya bereksperimen menulis berita kriminal
Menggali cerita-cerita orang mati dari mulut orang-orang hidup
duduklah dengan khidmat di depan kamar jenazah layaknya Budha. Di sana
cuma mayat yang paham kebenaran bahasa dan selalu lolos dari kejaran wawancara

Selamat mencoba.

Serang, 2020

 

Maut

Bung, maut seringkali lebih lentur dari analisa politik
Tak perlu dalih rumit
Datang pagi-pagi sekali mengetuk pintu rumah
Bahkan seekor burung belum sempat berkicau
Loper koran belum sempat melempar kabar dari luar pagar

Ia tersenyum ramah menjabat tanganmu

Kadang-kadang ia serupa sulur-sulur cahaya ungu pada selang infus
Memasuki lorong-lorong pembuluh darahmu
Mendekap dengan perlahan dan damai
Meski ada banyak rencana yang mesti dituntaskan

Maut selalu tersenyum menjemputmu tanpa banyak bertanya ke mana

2020

 

In Absentia

Di mulut gerbang masjid raya
aku terkenang alhambra
dalam petikan rapat jemari anna
Dinding merah ukiran mewah
Tangan malaikat menciptakannya

Bukit menyala
Bukit menyala

Nyanyian agung juga rupanya
menerobos dari dinding kristus raja.

Serang, 2019