Religiousitas Sastra dan Wacana Agamis: Dua Wajah Perempuan dalam Novel Berlatarkan Mesir

Dalam novelnya yang berjudul Perempuan di Titik Nol, Nawal El Sa’adawi menghadirkan tokoh perempuan Timur Tengah yang berhasil menantang tatanan masyarakat patriarki yang kejam. Lewat tokoh Firdaus, Nawal menyatakan keberpihakannya terhadap kaum perempuan Mesir yang terus mengalami diskriminasi. Secara paradoks, ia mengkritik marjinalisasi perempuan di tanah kelahirannya dengan membenturkan simbol-simbol agamis bertolak belakang dengan aspek religiusitas yang tercermin pada tokoh laki-laki di dalam novelnya. Semua tokoh laki-laki dalam novel direpresentasikan negatif, sekalipun mereka digambarkan sebagai laki-laki yang agamis.

Sejak kecil Firdaus telah menyimpan kebencian terhadap laki-laki khususnya ayahnya. Berdalih sebagai pemimpin keluarga, ayahnya sering bertindak kejam terhadapnya dan ibunya, seperti memaki dan memukul. Kebencian Firdaus bertambah di usia remaja saat ia tinggal dengan paman yang sering melecehkannya. Bahkan paman menjodohkannya dengan laki-laki tua, seorang Syekh yang paham agama tetapi digambarkan memiliki sifat-sifat yang bertolak belakang dari kesalehannya. Paradoks dalam novel karya Nawal terkait aspek religiusitas yang bertolak belakang dengan simbol-simbol agamis ditunjukkan dalam kutipan berikut;

"Tetapi Paman mengatakan kepada saya bahwa semua suami 
memukul isterinya, dan isterinya menambahkan bahwa 
suaminya pun seringkali memukulnya. Saya katakan, bahwa 
Paman adalah seorang syeikh yang terhormat, terpelajar 
dalam hal ajaran agama, dan dia, karena itu, tak 
mungkin memiliki kebiasaan memukul isterinya. Dia 
menjawab, bahwa justru laki-Iaki yang memahami agama 
itulah yang suka memukul isterinya. Aturan agama 
mengijinkan untuk melakukan hukuman itu."

Melalui kutipan di atas, Nawal El Sadawi menyajikan paradoks terkait wacana keislaman seorang agamawan dan tindak kekerasan. Wacana agama digunakan sebagai pembenaran tindak kekerasan seorang laki-laki kepada perempuan. Kutipan di atas sekaligus menunjukkan disposisi Nawal El Sadawi terkait kritikannya terhadap tradisi patriarki yang seolah dilegalkan oleh aturan agama sehingga memunculkan penindasan kepada perempuan di Mesir.

Paradoks antara kesalehan yang berbanding terbalik dengan sikap religius tokoh-tokoh laki-laki seperti yang disampaikan Nawal El Sadawi dalam Perempuan di Titik Nol mengingatkan saya pada pemikiran Mangunwijaya (1988) yang bertajuk Sastra dan Religiusitas. Pada bagian pembuka, Mangunwijaya telah menegaskan tentang alasan pemilihan istilah religius atau religiusitas dibanding istilah agama atau religi. Menurutnya, istilah agama lebih mengacu kepada kelembagaan kebaktian kepada Tuhan dalam aspek yang resmi, yuridis, dipenuhi hukum dan aturan, serta penafsiran-penafsiran terhadap kitab suci. Sementara, religiusitas lebih melihat aspek kebatinan, hati nurani personal, yang penuh misteri karena berlandaskan pada keintiman jiwa, totalitas dalam setiap pribadi manusia. Mangunwijaya mengilustrasikan lagu Trio Bimbo yang berjudul Tuhan, yang dapat dirasakan keharuannya oleh pemeluk agama mana saja, termasuk muslim maupun Kristiani. Religiousitas juga termasuk sikap-sikap religious, seperti membungkuk, sujud sebagai ekspresi ketaatan kepada Tuhan.

Paradok dalam narasi hidup Firdaus yang digambarkan Nawal El Sadawi melalui para tokoh laki-laki dalam Perempuan di Titik Nol sejalan dengan pernyataan Mangunwijaya tentang pergulatan sikap religious dan orang dianggap ‘saleh’. Mangunwijaya menegaskan bahwa orang beragama seharusnya memiliki sikap religious, namun pada kenyataannya tidaklah demikian. Beberapa orang menganut agama tertentu karena motivasi jaminan material, karir politik, jodoh, atau karena tidak punya pilihan lain. Dengan kata lain, agama bagi orang-orang tertentu hanya merupakan simbol bahkan kapital untuk dapat diterima di masyarakat. Bahkan agama juga dijadikan sebagai pembenaran atas suatu tindakan yang bertolak belakang dengan religiusitas seperti yang dialami oleh tokoh Firdaus.

Mangunwijaya menambahkan bahwa istilah religiusitas sangat erat kaitannya dengan sastra karena seyogyanya semua sastra adalah religious. Dengan kata lain semua sastra yang baik selalu religious. Para sastrawan mengemban tugas dan tanggung jawab terutama dalam persoalan eksistensial yang menyangkut kemanusiaan. Karya sastra yang baik adalah yang mampu untuk mengungkap segala persoalan kemanusiaan meskipun seluruh dunia bungkam. Salah satu karya tersebut adalah Perempuan di Titik Nol yang telah menunjukkan sikap Nawal El Sadawi dengan berani melontarkan kritikan pedas kepada tradisi patriarki di negaranya.

Jika mengacu penjelasan Mangunwijaya tentang sastra dan religiusitas, maka ada pemisahan antara sastra yang religious dengan sastra yang agamis. Sastra yang mengusung konsep suatu agama tertentu tidak serta merta dapat diketegorikan sebagai sastra yang religious, misalnya sastra Islami, yang mengusung wacana keislaman tetapi tidak menjamin aspek religiusitas tersiarkan dalam narasinya.  Sastra Islami merupakan salah satu media bagaimana wacana keislaman diproduksi, ditransmisikan, dan didiseminasikan di ruang publik sebagai ekspresi politik Muslim. Meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa karya sastra Islami tidak semua membicarakan tentang aksi politik.

Akan tetapi, wacana keislaman yang berbicara tentang aturan pakaian perempuan muslim, motivasi keislaman, dan panduan hubungan muda mudi muslim kerap mewarnai narasi sastra Islami. Narasi yang memuat berbagai aturan Islami ini, tidak secara ekspilit dikategorikan sebagai aksi politik melainkan disebut juga dengan politik muslim. Wacana being dan becoming Islam tersebut telah ditansformasikan ke berbagai simbol keagamaan sehingga menyatu dengan identitas keislaman. Dengan kata lain, sastra Islami dapat dikonstruksikan berdasarkan ideologi-ideologi dan kepentingan tertentu, seperti melegalkan patriarkis bahkan menumbuhkan sikap fundamentalis yang sangat jauh dari aspek religiousitas.

Ayat-ayat Cinta karya Habbiburahman El Shirazy adalah salah satu contoh dari sastra Islami. Ditinjau secara permukaan, novel ini sangat Islami karena diwarnai dengan politik Islami yang ditampilkan melalui simbol-simbol agamis yang sangat kuat. Akan tetapi jika dilihat dari keseluruhan, novel ini terlihat sedang melakukan glorifikasi pada tokoh laki-laki yang dianggap saleh yang tergambar kuat dalam narasinya. Dengan kata lain, peng-arusutamaan patriarki menjadi hal yang sangat menonjol dalam novel ini. Hal ini bertolak belakang dengan Perempuan di Titik Nol, yang juga mengusung Mesir sebagai latar cerita.

Fahri bin Abdillah merupakan tokoh utama novel. Ia digambarkan sebagai pemuda yang sempurna, shaleh, cerdas, pekerja keras, dan tampan. Kesempurnaan yang dimilikinya memikat banyak perempuan, termasuk empat tokoh perempuan utama di dalam novel, yakni Maria, Nurul, Naura, dan Aisha. Empat perempuan ini yang pada awalnya digambarkan sebagai sosok yang cerdas, hebat, dan mandiri, namun karakter mereka mengalami ‘pelemahan’ yang disebabkan oleh perasaan cinta pada kesempurnaan tokoh Fahri.

Dalam novel karya Habbiburahman ini, citra perempuan masih dikonstruksikan melalui cara pandang yang patriarki. Perpektif ini digambarkan melalui sikap dan keputusan yang hanya didorong oleh rasa cinta sehingga menunjukkan sisi perempuan sebagai makhluk sensitif (perasa) dan submissive (lemah).

Tokoh Maria yang awalnya digambarkan sebagai sosok yang berkarakter, kuat dan mandiri, tetapi dilemahkan saat jatuh cinta kepada Fahri. Begitu juga dengan tokoh Naora dan Nurul yang merupakan mahasiswa cerdas dari Universitas Al Azhar tetapi pada akhirnya bersedia melakukan apa saja untuk menaklukan hati Fahri. Seperti yang digambarkan dalam kutipan berikut;

"Wahai orang yang lembut hatinya, Dalam hatiku, 
keinginanku sekarang ini adalah aku ingin halal 
bagimu. Islam memang telah menghapus perbudakan, 
tapi demi rasa cintaku padamu yang tiada terkira 
dalamnya terhunjam di dada aku ingin menjadi 
budakmu. Budak yang halal bagimu, yang bisa kau 
seka air matanya, kau belai rambutnya dan kau 
kecup keningnya."

Kutipan di atas memperlihatkan sisi lemah seorang perempuan yang mabuk cinta kepada laki-laki, sehingga ia bersedia menjadi budak yang melayani laki-laki yang ia cintai. Hal ini sangat ironi, mengingat tokoh Naora pada awalnya dikenalkan sebagai mahasiswi Al Azhar yang cerdas, namun hilang akal karena terpikat oleh kesempunaan Fahri. Hal yang sama juga berlaku pada tokoh Aisha, yang bersedia untuk dipoligami demi menyelamatkan Fahri.

Perempuan di Titik Nol karya Nawal El Saadawi dan Ayat-ayat Cinta karya Habiburahman semakin mempertegas perbedaan yang signifikan antara religiusitas sastra dan sastra Islami. Nawal El Saadawi secara lantang menyuarakan kritiknya terhadap tradisi patriarki di Mesir dengan menyajikan paradoks antara simbol-simbol agama dan aspek religiusitas dalam setiap tokoh laki-laki di dalam novelnya. Sementara karya Habiburahman, yang sangat kental akan simbol-simbol keagaaman namun sangat lemah dalam aspek religiusitas, terutama adanya unsur pelemahan perempuan serta turut serta merayakan perspektif patriarki dalam narasinya. Hal ini semakin mempertegas kembali pernyataan Mangunwijaya bahwa tidak semuanya yang disebut yang disebut agamis adalah religius.