Tanpa Batas

Sastra sebagai Kesadaran Kolektif Kultural

Setiap genre sastra selalu hadir sebagai sebuah sistem lambang budaya yang merupakan hasil kegiatan intelektual sastrawan dalam memberi respon berbagai fenomena yang hadir di sekelilingnya. Jadilah teks sastra sebagai sebuah fakta kemanusiaan, fakta kejiwaan dan fakta kesadaran kolektif sosiokultural. Di dalam sebuah teks sastra terpancar pemikiran, kehidupan, budaya, dan tradisi yang hidup dalam masyarakat.

Sastra berperan penting dan kuyup terlibat dalam gerak kebudayaan. Sastra itu sendiri merupakan salah satu aspek kebudayaan. Peranan dan keterlibatan sastra dalam kebudayaan, setidaknya ada dua hal. Pertama, dalam kaitannya dengan penyediaan sumber data, yaitu dalam bentuk teks sastra, baik lisan maupun tulisan. Kedua, peranan dan keterlibatannya dalam memproduksi teori-teori sastra, khususnya teori-teori poststrukturalisme.

Sebagai sumber data, sastra bersifat fiksi sekaligus fakta. Sastra merupakan sumber data dengan medium bahasa yang kemudian dipresentasikan dalam bentuk wacana. Karya sastra pun merupakan objek kajian yang amat kaya karena merupakan sistem simbols yang selalu menunjuk dan merujuk sesuatu yang lain. Di samping menyediakan sumber data yang kaya, sastra juga menyediakan teori-teori. Dalam kaitannya dengan studi kultural, teori-teori yang dimaksud adalah poststrukturalisme yang mengangkat fiksi dan fakta, rekaan dan realitas menjadi isu yang penting.

Sastra dan kebudayaan, baik secara definitif etimologis maupun secara praktis pragmatis berkait erat, keduanya berbagi wilayah yang sama, yaitu aktivitas manusia namun dengan jalan yang berbeda. Sastra melalui kemampuan daya imajinasi dan kreativitas yang ditumpu kemampuan emosionalitas, sedangkan kebudayaan melalui kemampuan akal sebagai kemampuan intelektualitas. Kedua-duanya sama-sama menaruh perhatian besar pada aspek-aspek rohaniah sebagai pencerahan akal budi.

Sastra dan kebudayaan selalu dikaitkan dengan nilai-nilai positif. Sama-sama memiliki fungsi kemanusiaan, sehingga karya sastra sering dianggap sebagai katharsis (Aristoteles), lango (Zoetmulder), aesthetic fungtion (Mukarovsky), aktivitas-aktivitas pencerahan (pujangga-pujangga reinesance.

Intensitas interaksi antara sastra dan kebudayaan dapat diurai melalui dua cara. Pertama, seperti yang terjadi pada hubungan antara sastra dengan masyarakat yang melahirkan sosiologi sastra yang dipicu oleh stagnasi strukturalisme yang terlampau mengagungkan unsur instrinsik sehungga mengabaikan aspek ekstrinsik yaitu aspek sosiokultural.

Kedua, hubungan antara sastra dan kebudayaan  juga dipicu oleh lahirnya perhatian terhadap kebudayaan yang di dalamnya membicarakan masalah-masalah yang berkait dengan kritik sastra. Dalam hubungan ini tampaklah peran sastra dalam studi kultural  yaitu mendudukkan sastra sebagai peristiwa-peristiwa kebudayaan. Oleh karena itulah cultural studies atau studi kultural sangat mungkin diterapkan dalam kajian sastra atau dengan kata lain sastra dengan berbagai genrenya merupakan salah satu objek studi kultural.

Dalam bukunya Cultural Study for Beginners(1997), Borin Van Loon mengemukakan bahwa sumbangan sastra amat besar dalam studi kultural. Hutcheon (2004) menguatkan pandangan itu dengan menunjukkan bahwa dalam sejarah kelahirannya di Inggris semua studi aktivitas manusia di awali dengan perdebatan mengenai sastra, khususnya perbedaan sastra tinggi dan sastra kelas pekerja.

Milner (2000) menegaskan bahwa studi kultural merupakan pergeseran sosiologis, sebagai pergeseran paradigma dari penelitian dan kajian sastra yang memberikan perhatian besar pada kualitas estetis karya sastra yang tidak terikat ruang dan waktu, bergeser pada penelitian sastra sebagai konstruksi sosial.

Kelahiran poststrukturalisme berpengaruh besar pada cara pandang kebudayaan. Terjadilah pergeseran paradigma dari pusat ke pinggiran. Masyarakat manusia bukan hanya kelompok manusia yang hidup di kota-kot, masyarakat kelas atas, melainkan juga masyarakat kelas marginal, masyarakat tertindas, liyan, tunawisma, tunasusila, dan sebagainya. Kajian sastra dengan tumpuan studi kultural diarahkan pada kompetensi dan eksistensi masyarakat tertentu, masyarakat yang barangkali dan acap kali terlupakan. Melalui studi kultural bisa disibak berbagai hal mengenai sastra lokal, sastra perempuan, sastra popular, tokoh komplementer dan sebagainya.

Interaksi yang simultan kedua-duanya akhirnya memberi saling memberi ruang dan saling mewarnai. Selama sastra dan kebudayaan membicarakan peristiwa manusia-kemanusiaan, masyarakat-kemasyarakatan, dan hidup-kehidupan, maka interaksi itu akan terus ada secara simultan, saling menawarkan berbagai pendekatan yang pada akhirnya berujung  pada pengayaan kesusastraan dan kebudayaan.

Melalui medium bahasa, sastra membangun ‘dunianya sendiri’, membangun realitanya sendiri yang otonom. Sastrawan memunculkan empatinya atas berbagai persoalan realitas, bahkan persoalan kejiwaan yang sangat personal dengan pengucapan yang khas, yang membangun imaji-imaji tertentu yang sanggup memunculkan pembayangan empatif pula dalam diri pembacanya. Penggunaan bahasa dalam sastra bersifat personal, dalam arti setiap sastrawan mempunyai pengucapan estetis bahasa yang khas yang berbeda satu dengan yang lain yang menjadi karakteristik yang membedakannya dengan sastrawan lain.

Teeuw (1984) menunjukkan peranan aspek budaya dalam penciptaan karya sastra, bahwa untuk memahami karya sastra pembaca harus memahami tiga kode, yaitu kode bahasa, kode sastra, dan kode budaya. Dalam kaitannya dengan interaksi yang timbul antara sastra dan kebudayaan, Dilthey )dalam Seung, 1982) menegaskan  bahwa makna dalam sastra terletak dalam ‘peristiwa’ dan pikiran objektif (objektive mind) yang merupakan suatu sistem konvensi yang muncul melalui anggota-anggota masyarakat yang hidup dalam nafas kebudayaan dan tradisinya. Dengan selalu diinisiasi oleh ‘peristiwa’ dan pikiran objektif dalam ranah kebudayaannya maka anggota masyrakat dapat berpikir, merasa, dan merespon dalam satu perangkat konvensi yang sama. ‘Peritiwa’ dan pikiran objektif itu mengandung unsur yang beraneka ragammisalnya bahasa, adat, tradisi, atau mitologi.

Kebudayaan dalam keterkaitannya dengan kesastraan diartikan sebagai sebuah sistem semiotika yang berada di luar semiotika sastra dan semiotika bahasa. Kebudayaan ini berkait dengan peristiwa dengan pola perilaku tertentu, bentuk-bentuk tertentu. Sebagai sebuah sistem semiotika, kebudayaan dipandang mempunyai aspek eskpresi yang unik dqan bermakna.

Bertens (1975) menyebut kode kultural sebagai acuan-acuan kepada suatu ilmu atau suatu tubuh pengetahuan tertentu seperti fisika, psikologis, medis dan historis. Sebagai sebuah kesadaran kolektif, tubuh pengetahuan harus dianggap sebagai sesuatu yang sudah terbagi di kalangan masyarakat. Misalnya, makna marah mengacu pada wajah merah dengan tangan terkepal; makna gelisah pada perilaku dan peristiwa orang yang berjalan mondar-mandir.

Culler (1977) menunjukkan ada lima cara untuk dapat menghubungkan teks sastra dengan ‘teks budaya’ sehingga teks sastra itu bermakna budaya. Di antara kelima cara tersebut, cara pertama dan kedua merupakan kesadaram kolektif kulural. Yang pertama, teks yang secara sosial sudah ada, yang dianggap sebagai “dunia nyata”. Yang kedua, teks kultural general yang sama dengan kode kultural. Ketiga, adalah konvensi gender, Keempat, adalah sikap natural. Dan  keempat, adalah intertekstual, yaitu adanya teks tertentu yang menjadi dasar  dari teks tertentu yang lain.***