Tanpa Batas

Selem dan Semua Anjing Milikku

Sejak 10 tahun lalu, aku pelihara anjing-anjing ini. Sejak 10 tahun lalu, aku pungut anjing kudis, anjing malang, anjing liar, hingga anjing yang sengaja dibuang di jalan, di kuburan, hingga di selokan-selokan kumuh. Satu persatu dari mereka aku rawat hingga kudisnya sembuh, dan yang liar menjadi jinak.

Aku rela berbagi tidur dengan mereka. Kubiarkan rumahku penuh oleh gonggongan mereka setiap hari. Mereka kuanggap sebagai teman-temanku, dan sebagai anak satu-satunya dalam keluarga, mereka juga aku anggap sebagai adik-adikku. Aku rela membeli berkilo-kilo beras, berkarung-karung ketela rambat untuk makanan mereka. Bahkan aku rela meninggalkan pekerjaanku sebagai penjaga warung kalau satu di antara mereka sakit. Aku mencintai mereka semua, sebagaimana cintaku pada diri sendiri.

Di rumah, kini aku memelihara 60 ekor anjing kampung yang semuanya aku pungut dari jalanan, dari selokan, maupun dari kuburan. Bahkan ada di antara mereka saat aku pungut sudah sekarat dan hampir mati. Andaikan saja aku tak memungutnya, mungkin ia akan menjadi bangkai dan kini sedang menjalani siksaan di neraka atau mungkin sedang bersenang-senang di surga dengan para bidadari.

Mereka semua sayang padaku dan aku menyayanginya.

Memang bagi sebagian orang anjing kampung adalah hewan yang kotor, dan bahkan tak jarang mereka membuang dengan sembarangan anjing-anjing kampung miliknya dan memilih untuk memelihara anjing ras dengan alasan klise bulu yang indah, telinga yang panjang, atau bertubuh pendek. Demi langit dan bumi, aku tidak membedakan mereka dan aku mencintai semua jenis anjing. Tapi saat ini aku masih lebih suka memelihara anjing kampung, dan selalu berpikir bahwa anjing kampung lebih menderita dari anjing ras. Aku rasa anjing ras memiliki banyak dan bahkan lebih banyak penikmat daripada anjing kampung.

***

Jika Yudisthira ingin masuk surga bersama seekor anjing yang setia menemaninya selama perjalanan menuju puncak Himalaya, aku ingin hidup bersama semua anjing milikku hingga ajal benar-benar datang menghampiri diriku. Aku bersetia dengan keenampuluh anjing itu. Aku berhutang padanya.

Anjing-anjing milikku dipimpin oleh anjing tertua yang kuberi nama Selem. Sedangkan yang lain kuberi nama Putih, Macan, Opa, Lesi, Nomi, Cili, Aldi, Aldo, Afi, Nyinyi, Dela, Salim, Keli, Sakura, Ayu, dan nama lain yang kuanggap sebagai nama yang spesial. Semua nama itu aku ingat, dan aku bisa membedakan yang mana Macan yang mana Aldo, maupun Salim dari melihat warna bulunya, karena pasti ada perbedaan walaupun warnanya sama-sama hitam.

Terus terang aku sangat sedih jika salah satu dari anjing itu harus mati. Sebagaimana kematian Poleng, anjing keenampuluh satu yang aku miliki. Poleng mati digilas truk enam hari yang lalu. Aku menangis, dan hingga kini aku masih merasa kehilangan atas kepergiannya. Saat malam dan dingin perlahan merayap di tubuhku, kadang aku menangis karena teringat Poleng. Bagaimana pun juga, saat aku temukan pertamakali di pinggir jalan keadaannya sangat memprihatinkan. Kurus kering, bulunya habis, dan tubuhnya dipenuhi borok. Di rumah aku obati boroknya hingga ia benar-benar sembuh dan bulunya tumbuh semakin lebat. Saat bulunya telah tumbuh lebat dan terlihat semakin gemuk, ternyata nasib berkata lain. Poleng mati mengenaskan digilas truk saat mengejarku di jalan raya. Atas kematian Poleng, aku harus menjaga mereka dengan baik.

***

Dulu. Dulu sekali, ketika aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar, pernah aku memungut seekor anak anjing hitam kedinginan dan kotor di pinggir jalan yang biasa aku lewati saat ke sekolah. Hujan baru saja reda, dan aku bergegas pulang dengan payung di tangan. Di pertengahan jalan aku mendengar kaing-kaing anjing dan ternyata itu anak anjing berwarna hitam di dalam got yang berusaha naik ke jalan dan tubuhnya menggigil hebat. Aku iba, sungguh aku benar-benar tak tega melihatnya. Payung aku lipat dan aku masukkan ke dalam tas sekolah. Tanpa perasaan jijik aku angkat anak anjing itu dan aku bawa pulang, tak peduli seragam sekolahku jadi kotor.

Tanpa melepas seragam aku mengambil handuk bekas di belakang rumah dan menyelimuti tubuh anak anjing yang menggigil itu, lalu kuletakkan di atas meja di depan kamarku. Tubuhnya masih menggigil walaupun sudah aku balut dengan handuk dan matanya menatapku dengan tatapan—yang kuanggap—kesedihan. Namun ibuku tak mengerti dengan keadaan anjing itu.

“Dewi apa yang kamu lakukan dengan anjing itu? Buang!”

Ibuku berteriak ketika melihat diriku bersama anak anjing itu, dan langsung menarik tubuhku.

“Dia kedinginan, kasihan dia,” aku mencoba untuk menjelaskan pada ibu, tapi percuma saja.

“Tidak ada anjing yang boleh masuk ke rumah ini. Ibu tidak suka anjing.”

Tanpa ampun, ibu melempar handuk yang membalut tubuh kecil anak anjing itu. Anak anjing itu ditariknya dengan kasar. Ibu menarik kakinya dan melemparkannya ke luar pekarangan rumah. Kaingan anak anjing itu terasa menyayat telingaku. Ia seperti meminta tolong kepadaku, tapi apa daya ibu membentakku saat aku ingin mengambilnya kembali.

“Jangan coba-coba membawa anjing itu kembali ke rumah ini,” kata ibu dengan nada tinggi. Aku menangis di dalam kamar dan seragam sekolah masih menempel di tubuh hingga senja.

Malam turun, tak ada sesuap nasi yang masuk ke dalam tubuhku. Aku dipaksa makan, dan hanya makan beberapa suapan saja. Itu pun sudah tengah malam. Keesokan harinya aku tidak mau sekolah. Ibu membentak. Ayah memaksa agar aku ke sekolah dan ia berjanji akan membelikanku anak anjing yang lebih lucu dari anak anjing yang aku pungut di jalan itu. Awalnya ibu sempat tak setuju dengan apa yang dijanjikan ayah, namun setelah ayah mendelik ke arahnya, ibu pun diam walaupun dalam hatinya mungkin masih ada ketidaksetujuan.

Dengan langkah yang sangat berat, pagi itu aku berangkat ke sekolah. Mataku sembab karena menangis semalaman. Di sekolah temanku menanyakan keadaanku dan aku jawab sekenanya saja.

Siangnya aku keracunan. Muntah-muntah sehabis makan jajan yang dijual di kantin sekolah hingga harus dilarikan ke rumah sakit. Di rumah sakit aku tak sadar betul. Antara sadar atau berada di alam mimpi. Namun samar-samar aku mendengar suara ibu. Aku yakin itu suara ibu yang menangis di sampingku. Namun aku tak tahu apa yang terjadi selanjutnya, karena setelah itu aku merasa diriku berkelana di dunia antah berantah, bukan di rumah sakit.

Aku tak tahu sudah berapa hari dirawat di rumah sakit ketika terbangun karena ada sesuatu dengan dorongan kuat ingin keluar dari dalam perutku lewat kerongkongan. Aku muntah begitu banyak dengan bau yang sangat, sangat tidak sedap. Warna muntahanku hijau, lebih hijau dari daun mangga yang tumbuh lebat di halaman rumahku. Ayah datang membantu dan setelah itu aku merasa bahwa tidak terjadi apa-apa pada tubuhku. Aku merasa sehat.

Beberapa saat baru aku sadari ada sesuatu di punggungku yang membuat geli. Itu anak anjing. Ya anak anjing hitam, persis seperti anak anjing yang aku pungut sepulang sekolah dan dibuang kembali oleh ibu. Kupangku anjing itu, dan ia mulai menjilati mukaku.

Ibu mendekat dengan tangis haru sambil memelukku erat. Aku menerima pelukannya walaupun aku tidak balas memeluknya.

“Ini anak anjing milik siapa?” aku bertanya pada ibu.

Ia melepas pelukannya dan berkata, “itu anjingmu Dewi,” sambil tersenyum dan tangannya mengusap air matanya. Ibu melanjutkan, “mulai hari ini, Dewi boleh memelihara anjing di rumah.”

Selama dirawat di rumah sakit, sebenarnya ada beberapa hal yang tidak aku ketahui. Tentang anak anjing hitam yang tiba-tiba ada di sampingku, atau tentang sikap ibu yang berubah dan mengizinkan aku memelihara anjing di rumah. Aku mencari tahu semua itu dari ayah.

***

Sudah lima hari aku di rumah sakit, namun tak ada tanda-tanda bahwa aku akan sadar. Sebenarnya, bukan aku saja yang keracunan, tujuh teman lain juga keracunan, tapi di antara mereka akulah yang paling malang. Di saat teman-teman lain sudah diperbolehkan pulang sehari atau dua hari setelah kejadian itu, aku masih tergeletak tak berdaya. Bahkan dokter telah mengatakan pada ayahku bahwa kecil kemungkinan aku bisa selamat. Kalaupun selamat, aku akan hidup menjadi orang gagu karena racun hampir menyebar ke seluruh tubuhku dan pasti akan menyerang sistem saraf otakku. Ayah tak tahu mesti berbuat apa untuk keselamatan anak satu-satunya, dan dalam ketidaktahuannya ia memutuskan untuk pulang dan meminta petunjuk pada Hyang Widhi di pura keluarga.

Ketika itu hujan turun begitu lebat yang membuat air menggenang di jalan. Di bawah guyuran hujan, ayah memacu sepeda motor miliknya dan membiarkan tubuhnya basah kuyup. Baju, celana, terasa lengket menempel di tubuhnya.

Di tengah jalan, sekilas dari atas sepeda motornya ayah melihat seekor anak anjing hitam tak bertuan kedinginan. Namun tak ada keinginan ayah untuk berhenti sekadar memindahkan anak anjing itu ke tempat teduh, dan mengabaikan anak anjing itu karena hanya ada satu tujuannya saat itu: berdoa di pura keluarga memohon kesembuhan untuk anaknya.

Ayah tak mengerti benar, lewat satu kilometer, ia merasa anak anjing itu membutuhkan pertolongannya. Di telinganya, ayah mendengar anak anjing itu seperti memanggil dan meminta pertolongan. Rasa iba tumbuh secara perlahan. Dan seperti digerakkan oleh kekuatan gaib, ia memutar arah dan memungut anak anjing itu.

Ayah tak jadi pulang. Ia kembali ke rumah sakit dengan seekor anak anjing hitam di tangan. Aku tak tahu kenapa ia membawa anak anjing itu ke rumah sakit, dan bukan ke rumah atau ke tempat yang teduh di sekitar sana.

“Entahlah, ayah juga tak tahu,” sahut ayah datar ketika aku bertanya padanya beberapa hari setelah aku pulang dari rumah sakit.

Setelah bulu anak anjing itu kering, ayah meletakkannya di tangan kananku, karena di tangan kiriku saat itu berisi infus. Ketika dilepas, anjing itu, kata ayah, menjilati tanganku. Ia naik lalu menjilati mukaku, bibirku, berkali-kali. Dengan kakinya yang mungil, ia juga menggaruk-garuk pipiku, setelah itu kembali menjilati mulutku. Beberapa saat kemudian ayah melihat tanganku bergerak, tubuhku menggeliat, lalu bangun dan muntah.

“Anak anjing itu menyelamatkanmu, tanpanya mungkin….” kata ayah terputus.

Sejak saat itu aku mulai memelihara anjing di rumah. Setiap anjing yang aku temui di jalan, di kuburan, atau di selokan kumuh aku pungut. Anak anjing hitam yang menyelamatkanku kuberi nama Selem. Dialah pemimpin anjing di rumahku.