Tanpa Batas

Tiga Dimensi Sastra Religi

Sastra dan Ritual

Pada tahun 1969—1971, Anis Djatisunda menyalin pantun itu dari koleksi Rd. Moechtar Kala (Ki Rakean Minda Kalangan [Suargi]). Hingga kini, pantun bogor dibacakan saat ritual upacara malam bakti Purnamasari di Kabuyutan Giri Tresna Wangi, Kota Sukabumi. Aki Buyut Baju Rambeng menuturkan pantun itu. Upacara ini dilakukan pada saat bulan purnama penuh setiap satu bulan sekali. Upacara malam bakti Purnamasari merupakan rasa syukur kepada Allah Swt. Isi dari pantun itu sendiri adalah hal-hal tentang sosial, budaya, ideologi, keamanan, dan agama (Narawati et al., 2021).

Upacara malam bakti Purnamasari menunjukkan bahwa karya sastra memiliki hubungan yang erat dengan agama/religi. Karya sastra—puisi Sunda—berfungsi sebagai alat ritual, bukan hanya karya estetik atau pertunjukan. Puisi digunakan dalam beragam ritual religi, misalnya jangjawokan, puisi pantun, puisi kawih, dsb. Kemudian, saat pengaruh Islam masuk ke budaya Sunda, puisi menjadi media pemujian kepada Allah Swt. Guguritan dan wawacan hadir sebagai impak dari pengaruh itu (Hendrayana, 2017).

Rohmana (2016) melihat bahwa guguritan menjadi medium keilmuan Islam. Pertama, guguritan berfungsi sebagai medium tasawuf. Selain itu, kedua, guguritan juga menjadi bentuk dari terjemahan Alquran yang puitik. Kemudian, ketiga, guguritan menjadi catatan perjalanan haji. Menurut Rohmana (2016), hal ini menunjukkan bahwa guguritan adalah bentuk puisi yang menekankan pada ekspresi batin yang bersifat sakral. Guguritan bukan menjadi alat hiburan seperti puisi lainnya.

Dari contoh-contoh di atas, seni/sastra dengan agama atau religi memiliki hubungan yang erat. Seni/sastra menjadi bagian dari ritual keagamaan/kepercayaan. Pada masyarakat tradisi, misalnya, seni tari atau seni pertunjukan menjadi menjadi bagian dari ritual. Syair-syair menjadi medium bagi puji-pujian. Karya seni/sastra yang memiliki hubungan yang erat itu masih berupa seni/sastra tradisi, misalnya tarian tradisi, musik tradisi, puisi lama, dsb.

 

Sastra sebagai Media Dakwah

Islam memiliki pengaruh dalam bentuk dan fungsi karya sastra. Hubungan antara seni/sastra dengan agama pun berubah. Pada karya-karya klasik, sastra memiliki hubungan dengan agama, tetapi dalam fungsi yang berbeda. Dalam karya sastra klasik, pesan-pesan yang berkaitan dengan moralitas keagamaan disampaikan. Pada saat itu, sastra tidak lagi menjadi bagian dari ritual, tetapi menjadi media penyampai pesan keagamaan. Dalam hal ini, Seperti halnya dalam guguritan, “Gurindam Dua Belas” dapat dilihat sebagai karya sastra yang berfungsi sebagai media untuk menyampaikan pesan keagamaan, nilai pendidikan, etika, moral, dsb (Rahayu and Christin, 2019; Sirait, 2018).

Pada karya sastra modern, fungsi karya sastra sebagai alat penyampai nilai pendidikan keagamaan, etika, moral, dsb. menjadi hal yang biasa terjadi, apalagi saat karya sastra diproduksi oleh kelompok atau komunitas tertentu. Di Indonesia, terdapat beberapa komunitas sastra yang bercorak agama. Rosidi (1972) mencatat bahwa pada dekade 1960-an, muncul kelompok sastra yang bercorak agama, misalnya Lesbumi, Lekrindo, dan para pengarang Katolik yang menulis di majalah Basis. Pendirian kelompok seni yang bercorak agama ini terjadi karena dinamika politik dan perang ideologi pada saat itu (Muzakka, 2018).

Pada dekade 1990-an, Forum Lingkar Pena (FLP) berdiri sebagai komunitas sastra bercorak Islam. Seperti yang terjadi pada dekade 1960-an, pendirian FLP terjadi karena dinamika politik pada saat itu. Pada saat itu, gerakan Islam mengalami pertumbuhan yang masif. Lembaga dakwah dan kajian-kajian keislaman bermunculan dan terpusat di kampus. FLP menjadi salah satu bagian dari dinamika yang terjadi pada saat itu. FLP menjadikan sastra sebagai media dakwah. Dengan demikian, dasar dalam berkarya adalah untuk pentingan moral manusia, bukan estetika karya (Ronidin, 2016). Pendirian dan perkembangan FLP yang begitu pesat bukan terjadi sebagai kemunculan sastra yang bernuansa seks, melainkan karena ekosistem industri penerbitan yang bercorak keislaman sedang bertumbuh.

Menurut Ronidin (2016), penulis FLP memiliki karakteristik karya yang khas. Karya-karya mereka bernuansa keislaman yang toleran, humanis, dan antikekerasan. Hal ini dilakukan untuk membentuk citra muslim di Indonesia. Pada saat itu, muslim di Indonesia banyak dicitrakan sebagai masyarakat yang penuh dengan kekerasan, bahkan teroris. Oleh sebab itu, penggambaran tokoh pada karya sastra penulis FLP memiliki karakter yang khas, yakni sosok muslim/muslimah yang kafah, misalnya Fahri pada novel Ayat-ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy.

Karakteristik karya sastra bernuansa agama seperti FLP masih bertahan hingga saat ini meski dengan tema dan visi yang berbeda. Meski tidak berafiliasi dengan FLP, para pengarang sastra populer islami tetap menjadikan sastra sebagai media dakwah. Produksi karya sastra populer islami menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Para penulis menerbitkan karya mereka di platform atau aplikasi novel digital, salah satunya NovelMe. Bahkan, karya sastra populer islami memiliki kategori tersendiri, yakni kategori religi. Artinya, karya sastra populer islami masih diminati oleh pembaca di Indonesia.

 

Sastra (Religi) Profan

Selanjutnya, sastra mengalami berbagai perkembangan sesuai dengan perkembangan pemikiran. Secara berangsur-angsur, sastra berkembang dari sastra sakral menjadi sastra yang profan. Bahkan sastra mampu mengkritisi kehidupan beragama. Dalam bukunya, Saridjo (2006) menjelaskan bahwa sastra yang mengolok-olok agama (baca: mengkritisi kehidupan beragama) adalah karya sastra yang profan. Makna kata mengolok-olok dan mengkritisi memiliki perbedaan makna yang signifikan. Namun, tidak semua karya sastra yang disebut pada bagian ini adalah karya sastra yang mengolok-olok agama. Oleh sebab itu, karya sastra itu bisa disebut sebagai karya sastra religi yang profan atau sastra (religi) profan atau karya sastra yang menyoal agama, tetapi profan (juga).

Di Indonesia, beberapa kasus terjadi pengolok-olokan atau pengkritikan kehidupan beragama melalui karya sastra, misalnya, berdasarkan catatan Saridjo (2006), puisi-puisi Hamzah Fansuri, karya-karya penulis Lekra, atau Suluk Gatholoco. Kasus yang paling masyhur adalah cerpen Kipandjikusmin: “Langit Makin Mendung”.

Cerpen “Langit Makin Mendung” karya Kipandjikusmin terbit di majalah Sastra nomor 9 tahun VI bulan Agustus 1968. Cerpen itu digugat oleh Departemen Agama Republik Indonesia karena telah menghina umat Islam, Tuhan, dan Rasul. Cerpen itu menggambarkan Rasul dan Tuhan yang memicu kemarahan umat Islam. Namun, di sisi lain, cerpen itu mengkritik kehidupan sosial dan kebobrokan politik yang terjadi di Indonesia. Cerpen itu juga memotret kehidupan beragama pada perode itu, yakni terjadi kemerosotan dalam kehidupan beragama. Agama ditunggangi oleh politik bahkan dieliminasi oleh politik. Jika melihat dari konteks periode 1960-an, pada dasarnya, cerpen ini berada pada kutub Islam dan antikomunis. Namun, hal yang menjadi masalah adalah imajinasi tentang Rasul dan Tuhan dalam cerpen ini.

Kritik terhadap kehidupan beragama juga dilayangkan oleh cerpen A.A. Navis, yakni “Robohnya Surau Kami”. Meski tidak sekontroversi cerpennya yang berjudul “Man Rabbuka”, cerpen “Robohnya Surau Kami” menimbulkan polemik bagi sebagian kelompok Islam. Namun, pada dasarnya, cerpen ini hendak merekonstruksi konsep kesalehan. Pemikiran “alternatif” ini penting pada masa itu. Sulastri (2009) menyebutkan bahwa A.A. Navis hendak memperluas makna kesalehan dan memperlihatkan ambivalensi yang diidap oleh manusia. Sulastri (2009) juga mengontekstualisasi cerita “Haji Saleh Masuk Neraka” dan cerpen “Robohnya Surau Kami” dengan Ungku Saliah dan cerita-cerita yang berkaitan dengannya karena penulisan cerpen ini memiliki periode yang sama dengan cerita-cerita yang berkaitan dengan Ungku Saliah.

Kritik terhadap kehidupan beragama tidak hanya dilakukan melalui karya sastra religi bernuansa keislaman, tetapi juga terjadi pada karya sastra bernuansa kekristenan. Antologi puisi Perempuan yang Dihapus Namanya karya Avianti Armand mengkritisi tafsir Alkitab yang bersifat misogini. Tafsir-tafsir itu menyubordinasi perempuan, sehingga perempuan ditempatkan pada posisi yang salah. Impaknya, perempuan pada Alkitab dimaknai sebagai penggoda, pengkhianat, dsb. Anggradinata (2016) menjelaskan bahwa antologi puisi Perempuan yang Dihapus Namanya hendak merekonstruksi citra perempuan dalam Alkitab menjadi perempuan yang subjektif dan mengalami Tuhan.

Dari uraian di atas, karya sastra religi memiliki tiga dimensi, yakni karya sastra yang menjadi bagian dari ritual religi, karya sastra yang menjadi media dakwah, dan karya sastra yang mengkritik kehidupan beragama. Seperti halnya bangunan tiga dimensi, sastra religi memiliki kedalaman ruang, volume, perspektif, bahkan ilusi.[]

 

Referensi

Anggradinata, L.P., 2016. Rekonstruksi Citra Perempuan dalam Alkitab pada Kumpulan Puisi Perempuan yang Dihapus Namanya Karya Avianti Armand, in: Konferensi Internasional Feminisme: Persilangan Identitas, Agensi, Dan Politik. pp. 123–153.

Hendrayana, D., 2017. Penguatan Budaya Lokal Sebagai Peneguh Nultikulturaalisme Melalui Toleransi Budaya, in: KonferensiInternasional Ikatan Dosen Budaya Daerah Indonesia Ke-7. pp. 48–55.

Muzakka, M., 2018. Pertarungan Ideologi Realisme Sosialis dan Feodalisme Religis dalam Novel Midah Simanis Bergigi Emas Karya Pramoedya Ananta Toer, in: Pertemuan Ilmiah Bahsa Dan Sastra Indonesia (PIBSI) XL 2018. pp. 1002–1010. https://doi.org/10.14710/nusa.14.1.86-95

Narawati, T., Hapidzin, R.I., Sunaryo, A., Budiman, A., 2021. Pantun Pajajaran Bogor Dalam Upacara Adat Bakti Purnamasari: Kajian Nilai-nilai Teladan Sosial Etnis Sunda. Mudra J. Seni Budaya 36, 280–289. https://doi.org/10.31091/mudra.v36i3.1280

Rahayu, E., Christin, M., 2019. Studi Etnografi Pada Gurindam 12 Sebagai Media Komunikasi Tradisional Masyarakat Melayu Kotatanjungpinang. Media Nusant. 49–60.

Rohmana, J.A., 2016. Sastra Islam Nusantara : Puisi Guguritan Sunda Dalam Tradisi Sastra Islam Nusantara : Akademika 21, 1–18.

Ronidin, 2016. Gerakan Sastra Keagamaan di Indonesia Sesudah Reformasi 1998. J. Puitika 12, 79–90.

Rosidi, A., 1972. Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia. Binacipta, Bandung.

Saridjo, M., 2006. Sastra dan Agama: Tinjauan Kesusastraan Indonesia Modern Bercorak Islam. Yayasan Ngali Aksara, Jakarta.

Sirait, L., 2018. Revitalisasi Gurindam Dua Belas Karya Raja Ali Haji Sebagai Pendidikan Berbasis Kearifan Lokal Etnis Melayu. Sosietas 8, 446–451. https://doi.org/10.17509/sosietas.v8i1.12497

Sulastri, 2009. Antara Mitos “Ungku Saliah” dengan Haji Saleh Masuk Neraka”: Makna, Konsep Kata “Saleh” Pendekatan Semiotika Budaya. J. Sosioteknologi 16, 559–569.

 

Langgeng Prima Anggradinata adalah pengajar di Prodi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya (FISIB), Universitas Pakuan. Ia menyelesaikan program sarjana di program studi Bahasa dan Sastra Indonesia FPBS Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dan program magister di Universitas Indonesia (UI).

Ia memiliki ketertarikan pada isu-isu gender dan interaksi lintas budaya. Selain itu, ia juga menekuni sejarah, khususnya sejarah sastra Indonesia, sastra siber, dan sejarah kebudayaan Indonesia.

Kini, ia mengelola situs web sastra buruan.co bersama para penulis di Bandung. Ia juga mengelola kanal YouTube Langgeng Prima Anggradinata.